Headlines News :

Kesehatan

Kesehatan
Home » » Perang Uhud 4

Perang Uhud 4

Written By Ramalan Zodiak on Minggu, 25 Desember 2011 | 16.40

Cerita sebelumnya :
Rasulullah melarang para pasukannya memulai serangan sebelum beliau memerintahkan mereka. Beliau memakai baju besinya, memotivasi para sahabatnya untuk berperang dan mendorong mereka bersabar dan tegar ketika berhadapan dengan musuh, kemudian meniupkan semanangat keberanian dan patriotisme kepada para sahabatnya.

Rasulullah menghunus sebilah pedang yang sangat tajam lalu menyeru para sahabat, “Siapa yang sanggup memegang pedang ini dengan memenuhi haknya?” Maka beberapa orang maju untuk mengambilnya – diantara mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Zubair bin al-Awwam dan Umar bin Khathab – hingga akhirnya Abu Dujanah bin Kharsyah mendekati Rasulullah dan bertanya, “Apa haknya pedang ini wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Engkau membabat dengan pedang ini wajah-wajah musuh hingga menunduk”. Ia berkata, “Akulah yang akan mengambil pedang itu dengan haknya wahai Rasulullah!”. Rasulullah pun memberikan pedangnya kepada Abu Dujanah.
Abu Dujanah adalah seorang pemberani yang sombong terhadap musuh di medan perang. Ia mempunyai ikat kepala merah, jika ia telah memakainya, maka orang-orang tahu bahwa ia akan bertempur hingga mati. Diraihnya pedang Rasulullah dan ia kenakan ikat kepala itu, lalu ia berjalan dengan sombongnya diantara dua pasukan, pada saat itu Rasulullah SAW bersabda, “Cara berjalan semacam itu dibenci oleh Allah kecuali di tempat seperti ini” (HR.Bukhari).
Sementara komando orang-orang kafir Quraisy dipegang oleh Abu Sufyan yang berada di tengah-tengah pasukan, sedang Khalid bin Walid di sayap kanan, Ikrimah bin Abu Jahal di sayap kiri, Shafwan bin Umayyah memimpin pasukan pejalan kaki dan Abdullah bin Rabi’ah memimpin pasukan pemanah. Panji-panji perang mereka diserahkan kepada sekelompok orang dari Bani Abdud Dar yang dipimpin oleh Thalhah bin Abu Thalhah al-Abdari.

Semakin dekatlah saat peperangan dan kedua pasukan sudah saling mendekat. Para wanita Quraisy  dipimpin oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan berkeliling di tengah-tengah barisan memukul rebana, membakar semangat kaum pria, memotivasi mereka untuk berperang, membangkitkan dendam kesumat para pahlawan dan menggerakkan emosi pasukan. Tidak sedikit di antara mereka yang membawa budak-budak yang dijanjikan akan  diberikan hadiah yang besar apabila mereka dapat membalaskan dendam atas kematian seorang ayah, saudara, suami atau orang-orang yang dicintai lainnya.

Tahapan-tahapan perang telah dimulai, pemicu pertempuran pertama adalah pembawa panji pasukan Quraisy, Thalhah bin Abu Thalhah al-Abdari, ia adalah salah satu prajurit Quraisy yang pemberani, pasukan Muslimin menjulukinya mesin perang. Ia keluar dengan menunggang seekor unta, ia menentang duel, tetapi orang-orang tidak mau menghadapinya karena keberaniannya yang luar biasa. Majulah Zubair bin Awwam menghadapinya tanpa memberinya kesempatan dan langsung menikamnya bagaikan singa, hingga ia melompat ke atas unta yang ditunggangi Thalhah, kemudian ia menjerembabkan unta itu ke bumi, lalu melemparkan Thalhah dari atas untanya dan memenggal kepalanya dengan pedangnya.

Rasulullah menyaksikan perkelahian yang menarik ini, maka beliau bertakbir dan diikuti oleh pasukan Muslimin, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya setiap Nabi punya Hawariy (pengikut setia) dan Hawariyku adalah Zubair”
Api peperangan semakin berkobar, pertempuran antara kedua pasukan menghebat di setiap titik medan peperangan. Darah orang-orang kafir Quraisy sudah mendidih ingin menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka yang sudah tewas setahun yang lalu di Badar. Dua kekuatan yang tidak seimbang itu, baik jumlah orang maupun  perlengkapan, sekarang berhadap-hadapan. Kekuatan dengan jumlah yang besar ini motifnya adalah balas dendam, yang sejak perang Badar tidak pernah reda. Sedang jumlah yang lebih kecil motifnya adalah, mempertahankan akidah, mempertahankan iman dan agama Allah.

Kedahsyatan peperangan terkonsentrasi di sekitar panji pasukan Quraisy. Banu Abdud Dar silih berganti membawa panji itu setelah terbunuhnya komandan mereka, Thalhah bin Abu Thalhah. Panji itu lalu dibawa oleh saudaranya Abu Syaibah Utsman bin Abu Thalhah. Hamzah bin Abdul Muthalib langsung menyerangnya dan menebas pundaknya dengan tebasan yang memisahkan tangan dari pundaknya, hingga tebasan itu sampai di pusarnya dan teburailah isi perutnya. Kemudian panji itu diambil alih oleh Abu Said bin Abu Thalhah, lalu Sa’ad bin Abi Waqqash memanahnya dengan anak panah hingga mengenai tenggorokannya, ia menjulurkan lidahnya dan mati seketika. Selanjutnya panji beralih pada Musafi’ bin Abu Thalhah, ia pun tewas ditembus anak panah milik ‘Ashim bin Tsabit, setelah itu panji diambil alih oleh saudaranya Kilab bin Abu Thalhah, lalu ia diserang oleh Zubair bin Awwam  hingga tewas.

Ketika kedahsyatan perang berpusat di sekitar panji pasukan Quraisy, saat itu pertempuran yang mengerikan pun terjadi di seluruh titik-titik peperangan. Ruh iman menyelimuti seluruh pasukan Muslimin, mereka menyerbu ke tengah-tengah pasukan Quraisy laksana aliran banjir bandang yang menjebol bendungan-bendungan.

Abu Dujanah maju dengan mengeluarkan ikat kepala merah, lalu ia mengikatkan ikat kepala kematian itu di kepalanya, sambil berkata, “Akulah orang yang telah diambil janji oleh kekasihku, ketika kami di kaki gunung di bawah pohon kurma, agar untuk selamanya tidak berada di barisan belakang, aku membabat musuh dengan pedang Allah dan RasulNya. Ia membawa pedang Rasulullah bertekad memenuhi hak-haknya, lalu bertempur hingga masuk ke dalam tengah-tengah pasukan, setiap kali ia bertemu orang kafir Quraisy pasti ia membunuhnya, ia memporak-porandakan barisan lawan. Sampai suatu ketika ia menyaksikan pemandangan Hindun binti Uthbah sedang mencincang tubuh-tubuh orang Islam yang gugur di medan perang, Abu Dujana segera menghampirinya lalu meletakkan pedang di belahan kepala wanita itu, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk membunuh, ditariknya lagi pedangnya sambil berkata, “Terlalu mulia rasanya pedang Rasulullah digunakan untuk membunuh wanita”.

Hamzah bin Abdul Muthalib bertempur laksana singa-singa yang diusik, ia menyerbu ke tengah-tengah pasukan Quraisy dengan hebat tiada bandingnya. Pasukan Quraisy bercerai-berai karena serangannya laksana dedaunan yang beterbangan diterpa angin kencang, disamping itu dia banyak terlibat dalam pembunuhan terhadap para pembawa panji pasukan kafir Quraisy dan para ksatria Quraisy yang lain, hingga akhirnya ia terbunuh dalam keadaan di barisan depan para ksatria utama Quraisy, tetapi tidak terbunuh secara berhadap-hadapan di medan perang sebagaimana terbunuhnya para ksatria tersebut, tetapi seperti terbunuhnya para orang mulia secara diam-diam di tengah-tengah kegelapan.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Trending Topic

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. si-Buta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger