Cerita Sebelumnya :
Diantara ksatria yang terjun pada hari itu adalah Handzalah bin Abu Amir, ia baru saja menikah, maka ketika ia mendengar panggilan untuk berperang –padahal ia sedang bersama istrinya- segera ia melepaskan diri dari pelukan istrinya dan langsung bangkit pergi berjihad. Ketika ia bertemu pasukan musyrikin di medan pertempuran, ia menerobos barisan musuh, hingga sampai di hadapan komandan pasukan musyrikin Abu Sufyan, ia hampir saja membunuhnya andai saja Allah tidak menghalangi niatnya. Namun tiba-tiba datang Syaddad bin al-Aswad memukul Handzalah dengan pedang hingga ‘pengantin baru’ itu pun gugur di medan perang.
Kelompok yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW untuk mengambil posisi di Jabal ar-Rumah (gunung para pemanah), mempunyai andil besar dalam mengontrol arus serangan untuk kepentingan pasukan Muslimin. Pasukan berkuda Makkah di bawah pimpinan Khalid bin Walid telah menyerang tiga kali, untuk menghancurkan sayap pasukan Muslimin sebelah kiri, dengan tujuan menyusup ke bagian belakang pasukan Muslimin, untuk membuat kekacauan dan kebingungan di barisan mereka dan menimpakan kekalahan telak atas mereka, tetapi para pemanah menghujani mereka dengan anak panah hingga gagallah ketiga serangan mereka.
Begitulah kobaran perang yang sengit itu berlangsung, pasukan Muslimin yang kecil itu tetap menguasai seluruh medan, hingga melemahlah keteguhan para ksatria pasukan musyrikin dan barisan mereka mulai bercerai-berai dari arah kanan, kiri, depan dan belakang, seolah-olah tiga ribu orang musyrik sedang menghadapi tiga puluh ribu Muslimin, bukan melawan beberapa ratus Muslimin. Memang pasukan Muslimin menjelma dalam gambaran keberanian dan keyakinan yang luar biasa.
Setelah pasukan Quraisy mengerahkan semua tenaganya untuk menghadang serangan pasukan Muslimin, mereka pun merasakan lemah dan frustasi serta hilanglah semangat mereka hingga tidak satu pun dari mereka berani mendekati panji mereka yang telah jatuh setelah terbunuhnya Shawab. Mereka mulai mundur dan melarikan diri sambil melupakan apa yang mereka ucapkan di dalam diri mereka, berupa balas dendam, menuntut balas dan pengembalian kemuliaan, kehormatan dan kejayaan.
Allah menurunkan pertolonganNya kepada pasukan Muslimin dan memenuhi janjiNya pada mereka. Pasukan Muslimin membabat pasukan musuh dengan pedang-pedang hingga berhasil mengusir mereka dari perkemahan mereka dan kekalahan tidak diragukan lagi. Abdullah bin Zubair meriwayatkan dari bapaknya, bahwa bapaknya berkata, “Demi Allah aku telah melihat gelang kaki Hindun binti Uthbah dan teman-teman wanitanya karena berlarian tunggang langgang dan hampir saja mereka tertangkap”.
Bara’ bin Azib juga mengatakan, “Ketika kami bertemu mereka, mereka melarikan diri, bahkan aku melihat para wanita tertatih-tatih di bukit, sambil mengangkat betis-betis mereka hingga tampak pula gelang kaki mereka” (Bukhari II/579). Pasukan Muslimin mengejar pasukan musyrikin, menghujani mereka dengan senjata dan mengumpulkan harta rampasan perang.
Ketika pasukan Muslimin yang sedikit itu untuk kedua kalinya mencatat kemenangan besar atas Makkah, suatu kemenangan yang tidak kalah mengesankannya daripada kemenangan yang mereka peroleh di medan Badar, terjadilah kesalahan fatal dari mayoritas pasukan pemanah, hingga membalikkan total keadaan dan menyebabkan kerugian besar pada pasukan Muslimin, bahkan hampir saja menjadi penyebab terbunuhnya Rasulullah SAW. Hal ini benar-benar telah memberikan kesan buruk bagi kredibilitas dan kewibawaan yang telah mereka nikmati setelah perang Badar.
Padahal Rasulullah SAW telah memberikan perintah-perintah tegas kepada para pasukan pemanah itu, agar mereka tetap di tempat mereka di gunung dalam situasi apapun, baik menang atau pun kalah. Tetapi meski ada perintah-perintah yang demikian kerasnya, ketika mereka melihat pasukan Muslimin sedang mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang musuh), ego mereka yang cinta dunia menang, sebagian berkata kepada yang lain, Ghanimah! Ghanimah! Para sahabat kalian telah menang, apa lagi yang kalian tunggu?”. Adapun komandan mereka Abdullah bin Jubair, benar-benar telah mengingatkan mereka akan perintah-perintah Rasulullah SAW, dia berkata, “Apakah kalian lupa pesan Rasulullah kepada kalian?” Tetapi mayoritas pasukan tidak peduli sama sekali akan peringatan ini, mereka berkata, “Demi Allah, kami akan bergabung dengan mereka, sehingga kami akan memperoleh harta rampasan perang” (Bukhari I/426)
Kemudian empat puluh prajurit atau lebih dari pasukan pemanah itu meninggalkan posisi mereka di bukit dan bergabung dengan mayoritas pasukan untuk ikut bersama mereka mengumpulkan ghanimah. Dengan demikian bagian belakang pasukan Muslimin tidak terlindungi, karena pasukan pemanah itu tidak tersisa kecuali Ibnu Jubair dan sembilan anak buahnya, atau kurang dari itu, mereka tetap pada posisi mereka, bertekad untuk tetap di sana hingga diizinkan bubar.
Khalid bin Walid komandan pasukan berkuda musuh, memanfaatkan kesempatan emas ini, ia berputar dengan sangat cepat, hingga sampai di belakang pasukan Islam, tidak berapa lama kemudian ia pun membantai Abdullah bin Jubair dan anak buahnya lalu menyerbu pasukan Muslimin dari arah belakang mereka. Pasukan berkuda anak buah Khalid bin Walid berteriak, hingga pasukan musuh yang kalah itu tahu adanya perkembangan baru, maka mereka berbalik ke arah pasukan Muslimin. Salah seorang wanita mereka -Amrah binti Alqamah- berlari dengan cepat dan mengangkat panji pasukan Quraisy yang tergeletak di tanah, sehingga orang-orang musyrikin berkumpul di sekelilingnya dan mengerumuninya, sebagian mereka memanggil sebagian yang lain hingga mereka berkumpul untuk menyerang pasukan Muslimin dan mereka pun bertahan dengan penuh semangat menghadapi pertempuran, sehingga pasukan Muslimin terkepung dari depan dan belakang, terjepit di tengah-tengah medan pertempuran.
Pada waktu itu Rasulullah SAW bersama sekelompok kecil, yaitu sembilan orang sahabatnya di bagian belakang pasukan Muslimin. Rasulullah sedang mengawasi mereka yang sedang membunuh dan mengejar pasukan Quraisy, ketika secara tiba-tiba diserang oleh pasukan berkuda Khalid. Rasulullah SAW dihadapkan pada dua pilihan, yang pertama beliau menyelamatkan diri dengan cepat bersama sembilan sahabatnya ke tempat perlindungan yang aman dan membiarkan pasukannya yang terkepung menuju takdirnya yang telah tertulis, sedang yang kedua mempertaruhkan nyawanya dan menyeru para sahabatnya agar berkumpul di sekitarnya kemudian bersama mereka membentuk barisan yang cukup kuat untuk beliau gunakan membuka jalan-jalan menuju ke arah bukit-bukit Uhud bagi para pasukannya yang terkepung.
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !