Pendapat yang dikemukakan oleh Abdullah bin Ubay itu banyak mendapat persetujuan dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW, baik Muhajirin ataupun Anshar. Walaupun sebenarnya pendapat itu tidak didasari oleh sudut pandang strategi peperangan yang sesungguhnya, tetapi agar dia sedapat mungkin menghindari peperangan tanpa dicurigai oleh seorang pun. Dia takut terbunuh dalam peperangan.
Namun segolongan tokoh utama sahabat mengusulkan kepada Rasulullah agar menyongsong musuh di luar Madinah. Mereka bersikeras dengan usulan itu hingga salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah... Jika Allah memberikan kemenangan kepada kita, itulah yang kita harapkan. Kalau pun kita mengalami kekalahan dan mati syahid, kita akan mendapat surga! Keluarlah menyongong musuh-musuh kita, supaya mereka tidak menganggap kita pengecut dan tidak mempunyai keberanian menghadapi mereka”.
Kata-kata yang membakar semangat keberanian dan mati syahid itu sangat menggetarkan hati mereka. Jiwa mereka tergugah semua untuk bersepakat memilih cara menghadapi musuh di luar Madinah. Pedang-pedang mereka akan mencerai-beraikan musuh-musuh Allah dan rampasan perang akan mereka kuasai. Lukisan surga tergambar di pelupuk mata mereka. Di situ akan terdapat segala yang menyenangkan hati dan mata, akan bertemu dengan sanak keluarga yang juga sudah turut berperang dan mati syahid.
Hamzah bin Abdul Muthalib paman Rasulullah pun berkata, “Demi Dzat yang menurunkan kitab al-Quran kepadamu, aku tidak akan makan makanan hingga aku membabat mereka dengan pedangku di luar Madinah”.
“Semoga Allah memberikan kemenangan kepada kita, atau sebaliknya kita mati syahid,” kata Khaithama Abu Sa’d bin Khaithama, “Dalam perang Badar aku bersama anakku telah turut ambil bagian dalam pertempuran itu. Tapi rupanya dia yang beruntung, karena dia telah gugur, mati syahid. Semalam aku bermimpi bertemu dengan anakku, dia berkata : Susullah kami, kita bertemu dalam surga. Sudah kami terima apa yang dijanjikan Allah kepada kami. Ya Rasulullah, aku akan menemuinya dalam surga. Aku sudah tua, tulang sudah rapuh. Aku ingin bertemu Tuhanku”.
Akhirnya Rasulullah membatalkan niatnya untuk menghadapi pasukan kafir di dalam Madinah karena bertentangan dengan kemauan tokoh-tokoh utama sahabat, sehingga keputusan akhir adalah keluar dari Madinah dan berperang di medan terbuka.
Hari itu hari Jum’at. Rasulullah sholat bersama kaum Muslimin, lalu memberikan nasehat dan memerintahkan kepada mereka agar bersungguh-sungguh dalam berjuang membela agama Allah. Lalu kepada mereka diberitahukan, bahwa atas ketabahan hati mereka itu, mereka akan memperoleh kemenangan. Kaum Muslimin bergembira dan makin bersemangat mendengar khutbah Rasulullah itu.
Selesai sholat Ashar Rasulullah masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kemudian keduanya memakaikan sorban dan pakaian beliau, setelah itu beliau mengenakan baju besi lalu mengambil pedang dan keluar menemui pasukan Muslim.
Kaum Muslimin telah menunggu beliau keluar, sementara Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair berkata kepada mereka, “Kalian telah memaksa Rasulullah bertempur di luar Madinah, padahal beliau menghendaki untuk bertahan di dalam Madinah. Semestinya kita serahkan keputusan sepenuhnya kepada beliau. Apa perintah beliau, kita jalankan dan apa kehendak beliau, kita taati”.
Mendengar penjelasan itu mereka semua menyesal telah menentang keinginan Rasulullah mengenai sesuatu yang mungkin itu wahyu dari Allah. Maka ketika Rasulullah keluar mereka berkata, “Wahai Rasulullah... Kami tidak berniat menentangmu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki. Jika kau lebih senang menghadapi musuh di dalam Madinah, lakukankah...”
Rasulullah menjawab, “Tidak pantas bagi seorang nabi jika telah mengenakan baju besinya lalu menanggalkannya kembali, hingga Allah memberikan keputusan antara dirinya dengan musuhnya”.
Demikianlah prinsip musyawarah itu oleh Rasulullah sudah dijadikan undang-undang dalam kehidupannya. Apabila suatu masalah yang dibahas telah diterima dengan suara terbanyak,
maka hal itu tak dapat dibatalkan oleh sesuatu keinginan atau karena ada maksud-maksud tertentu.
Selanjutnya Rasulullah mengelompokkan pasukannya menjadi tiga bagian, pasukan Muhajirin dengan Mush’ab bin Umair sebagai pembawa panjinya, pasukan suku Aus dari Anshar dengan Usaid bin Khudhair sebagai pembawa panjinya dan pasukan Khazraj yang panjinya diserahkan kepada Hubab bin Mundzir.
Seluruh pasukan Muslimin berjumlah seribu orang, diantara mereka ada seratus prajurit berperisai dan tidak satu pun diatara mereka yang berkuda. Rasulullah mengangkat Ibnu Ummi Maktum menjadi imam shalat di Madinah bersama mereka yang tinggal di sana, lalu beliau mengumumkan saat keberangkatan, maka bergeraklah pasukan ke arah utara, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah berlari di depan Rasulullah dengan mengenakan baju besi.
Tatkala Rasulullah melewati Tsaniyatul Wada’ beliau melihat ada sekelompok pasukan dengan persenjataan lengkap yang tampak berbeda sendiri dari pasukan induk, maka beliau bertanya tentang pasukan itu, beliau diberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi yang merupakan sekutu suku Khazraj, mereka ingin ikut serta dalam perang melawan pasukan musyrikin.
Rasulullah bertanya, “Apakah mereka masuk Islam?”
Para sahabat menjawab, “Tidak.”
Maka Rasulullah tidak mau minta bantuan pada orang-orang kafir untuk memerangi orang-orang musyrik.
Ketika Rasulullah sampai di suatu tempat bernama Asy-Syaikhani, beliau menginspeksi pasukannya dan menolak mereka yang beliau anggap masih kecil dan belum sanggup berperang, diantaranya, Abdullah bin Umar bin Khattab, Usamah bin Zaid, Usaid bin Dhuhair, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, Arabah bin Aus, Amr bin Hazm, Abu Sa’id al-Khudri, Zaid bin Haritsah al-Anshari dan Sa’ad bin Hibbah.
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !