Headlines News :

Kesehatan

Kesehatan

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kami Berkomitmen Mengembangkan Agroindustri

Written By IP on Sabtu, 10 September 2011 | 22.51

DALAM era yang semakin kompetitif dan global, pesatnya perubahan budaya yang disertai dengan berkembangnya Ipteks di masyarakat, mendorong Universitas Jember untuk mengantisipasi dan menyikapinya secara tepat dan cermat. Karena itulah, perlu adanya upaya perbaikan, peningkatan dan pengembangan pola proses akademis. Antisipasi pada penyusunan kurikulum yang wajar, dialogis dan dinamis, sistem rekrutmen yang rasional, demokratis dan kompetitif, membangun akademik atmosfir yang sehat dan kondusif, memantapkan daya tahan dalam kurun waktu lama baik dalam menarik calon mahasiswa berkualitas maupun meningkatkan kemampuan swadana dalam menunjang proses pendidikan, menjadi sesuatu yang harus disegerakan.

UNEJ mempunyai tugas pokok yaitu menyelenggarakan pendidikan tinggi dan memberikan pendidikan berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia dengan cara ilmiah yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan nasional.
 Universitas Jember (UNEJ) berada di kota Jember, sebuah kota berhawa tropis di bagian tenggara Propinsi Jawa Timur. Kampus UNEJ berada di kawasan hijau yang ramah lingkungan sehingga memberikan ketenangan dalam melaksanakan kegiatan akademik. Kota Jember sendiri berada diantara Kawah Ijen dan Gunung Bromo serta dikelilingi perkebunan yang sebagian besar ditanami tembakau, kopi, coklat dan tebu.

Universitas Jember berasal dari universitas swasta bernama Universitas Tawang Alun yang berdiri sejak tanggal 4 November 1957. Pada mulanya, Universitas Tawang Alun memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Hukum. Pada tahun 1960 didirikan Fakultas Administrasi Negara dan Perusahaan (ANP), setahun kemudian menjadi Fakultas Sosial dan Politik (Fakultas Sospol). Atas permintaan masyarakat, Universitas Tawang Alun pada tahun yang sama menambah fakultas baru, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Kedokteran.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Nomor 95 Tahun 1962 tanggal 1 Agustus 1962, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran dibina oleh Universitas Airlangga Surabaya. Pada tanggal 5 Januari 1963, Universitas Tawang Alun dinegerikan bersamaan dengan Universitas Brawidjaja Malang berdasarkan Keputusan Menteri PTIP Nomor 1 Tahun 1963, tanggal 5 Januari 1963.

Walaupun Universitas Tawang Alun telah dinegerikan, statusnya masih sebagai cabang dari Universitas Brawidjaja (UNBRA) yang berkedudukan di Jember dengan beberapa fakultas, yaitu: (1) Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, (2) Fakultas Pertanian, (3) Fakultas Ilmu Pendidikan, (4) Fakultas Sosial dan Politik, dan (5) Fakultas Kedokteran. Status Fakultas Hukum dan Fakultas Pertanian masing-masing sebagai cabang dari Fakultas Hukum dan Fakultas Pertanian UNBRA Malang, sedangkan Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sosial dan Politik, serta Fakultas Kedokteran berdiri sendiri di Jember. Kemudian, pada Tahun Ajaran 1963/1964 didirikan dua fakultas baru, yaitu Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi yang berkedudukan di Banyuwangi di bawah UNBRA Tjabang Djember.

Pada tahun 1963, Fakultas Kedokteran UNIBRAW Malang Cabang Jember diintegrasikan ke dalam Universitas Airlangga Surabaya sedangkan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan diintegrasikan ke dalam IKIP Negeri Malang. Pengintegrasian tersebut didasarkan atas pertimbangan Menteri yang tertuang kdalam Keputusan Presiden Nomor 196 Tahun 1963, tanggal 23 September 1963, berlangsung sampai bulan November 1964. Berdasarkan Keputusan Menteri PTIP Nomor 151/1964, tanggal 9 November 1964, Universitas Brawidjaja Tjabang Djember dinyatakan berdiri sendiri dengan status negeri menjadi Universitas Negeri Djember dengan singkatan UNED. Universitas Negeri Djember saat itu memiliki empat fakultas, yaitu: (1) Fakultas Hukum (di Jember dengan cabangnya di Banyuwangi), (2) Fakultas Sosial dan Politik (di Jember), (3) Fakultas Pertanian (di Jember), (4) Fakultas Ekonomi (di Banyuwangi), dan (5) Fakultas Sastra (di Banyuwangi).
Atas dasar kebijakan rektor melalui Keputusan Nomor 583/AU/22/1965, tanggal 31 Desember 1965, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sastra yang berkedudukan di Banyuwangi dipindahkan ke Jember. Selanjutnya, dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 161 Tahun 1967, mulai 1 Januari 1968, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang Tjabang Djember yang semula diintegrasikan dengan UNBRA Malang, kemudian diintegrasikan ke Universitas Negeri Djember. Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra dan Seni IKIP Malang Tjabang Djember tersebut masing masing menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas Sastra Universitas Negeri Djember.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1982, tanggal 7 September 1982, Universitas Negeri Djember ditetapkan bernama Universitas Jember dengan akronim UNEJ.
Sampai dengan Tahun Akademik 2008/2009, Universitas Jember mempunyai 13 fakultas dan 1 program studi setara fakultas yang terdiri dari 11 PS jenjang diploma, 39 PS jenjang S1, dan 6 PS jenjang S2. Masing-masing PS memiliki identitas berupa visi, misi, tujuan, dan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan stakeholders. Beberapa fakultas sudah memiliki website sendiri sehingga informasi lebih lengkapnya disajikan di sana.
(adaptasi dari nuansaonline.net)

Manfaat Kegiatan Menulis

Written By IP on Kamis, 01 September 2011 | 19.04

Banyak nilai plus yang bisa diperoleh dengan keterampilan menulis. Bagi seorang pejabat atau profesional aktivitas menulis dapat dijadikan media aktualisasi diri juga dapat mendongkrak pencitraan dirinya di hadapan publik. Begitu pun bagi guru, menulis mampu mengembangkan profesionalitas, memajukan keilmuan, silaturrahim dan mendapat tambahan penghasilan melalui honor menulis.

Kegiatan menulis mampu menembus ruang dan waktu, perbedaan jenjang sekolah, senioritas, maupun jalimet birokrasi. Ada kendala mendasar yang menjadi hambatan bagi para guru untuk menulis seputar kendala pribadi guru seputar rasa malu, takut dikritik, bosan dan tidak percaya diri.  Menurut H. Wakhudin (salah seorang Redaktur “PR”) menulis bagi sebagian besar bangsa Indonesia  masih merupakan persoalan besar.  Banyak orang pintar dan kaum profesional yang ahli di bidang tertentu, akan tetapi saat diminta menulis tentang berbagai pemikiran yang dimilikinya mereka kelabakan.

Namun jangan buru-buru lempar handuk dulu! Satu hal yang harus dipahami bahwa kemampuan menulis bukan lahir karena bakat, tetapi diciptakan.  Menurut Bambang Trims, tidak ada orang yang dilahirkan sebagai penulis, yang benar ia tercipta sebagai penulis karena diberi peluang dan stimulus untuk belajar, berlatih dan berkembang. Karena sejatinya, tak ada penulis yang terlatih, tetapi yang ada penulis yang suka berlatih. Artinya, siapa pun orangnya, dengan berkeinginan dan berkemauan, insya Alloh yakin bisa! Salah satu cara belajar menulis yang efektif adalah berguru kepada para penulis yang telah mapan. Caranya cukup dengan membaca, menelaah dan mempelajari karya-karya mereka.  Kalau sekira memori kita tidak kuat dalam mengingat, copy dan gunting lalu buatlah kliping sebagai dokumentasi berisi data, fakta maupun angka-angka.  Kliping amat “manjur” dalam menemani seorang penulis dalam membuat artikel.  Begitupun media internet bagi sudah mahir akan sangat ampuh berisi sejumlah informasi bahan untuk menulis.

Kita bisa belajar cara menuangkan ide, mengolah rasa bahasa, kosa kata, karakter dan gaya seorang penulis. Di tangan seorang penulis, bahasa bisa menjadi menggelitik, menyentil, menggugah, menusuk, indah puitis bahkan kocak mengocok perut. Dengan berguru kepada mereka, secara tidak disadari merupakan bagian proses latihan menulis. Toh dalam jangka waktu tertentu, seorang pemula akan menemukan eksistensi, ciri khas dan kekuatannya sendiri, namun jangan jadi plagiat. Dengan menjiplak karya orang lain, dengan harapan meraih materi dan popularitas, jika ketahuan bakal diblacklist, tentu dapat menamatkan karir menulis.
Ide untuk menulis diperoleh bersumber berupa pengalaman diri sendiri, dapat menimba pengalaman orang lain dan banyak membaca.  Dalam Mangle No. 2107 (Maret 2007) H. Usep Romli mengisahkan .

dalam artikelnya Rek Diudag Maung Sancang, dirinya tak segan melakukan perjalanan masuk kampung keluar kampung bahkan hutan hanya sekedar mencari pengalaman sebagai sumber ide bahan untuk menulis. Dalam sekali perjalanan (3-4 hari)  bisa mengoleksi hampir 7-10 tulisan dan dimuat oleh surat kabar Bandung dan Jakarta. Hasilnya setara hampir sepuluh kali lipat gaji dia sebagai guru SD saat itu.

Benda-benda dan kebiasaan masyarakat yang ditemui di sepanjang petualangannya, seperti: lisung (alat penumbuk padi), kolecer (kincir dari bambu), kawung (pohon enau) mampu diolah secara cerdas menjadi artikel.  Bagi guru, tentu banyak ide yang dapat diolah, sebut saja: kenakalan remaja, perilaku mencontek, bahaya jajan sembarangan, atau di tingkat nasional berkenaan dengan: sertifikasi, akreditasi, anggaran pendidikan 20% adalah ide-ide yang bisa dikemas menggoda dan menggelitik.

Rubrik Tajuk utama, Resonansi, Keluarga atau Kesehatan Majalah Nuansa Persada, sesungguhnya  sumber ide untuk dikelola kembali dengan gaya dan penyajian tersendiri terutama relevan dan aktual dengan kondisi tengah terjadi. Banyak artikel penulis diilhami oleh artikel Majalah ini, seperti: Pelajaran Kejujuran (“GM”), Orang Tua Tularkan Kebiasaan Merokok (“Tribun”), Bahaya Kurang Gerak/Kolesterol/MSG (Kompas/PR) dll. Bahkan Tajuk utama Majalah Nuansa, “Menjaga Beranda Rumah Indonesia” (Edisi Oktober 2007) menjadi inspirasi utama untuk membuat naskah buku sayembara oleh pusat perbukuan Depdiknas.

Dengan gaya anak-anak SD seolah diajak mengunjungi saudara-saudaranya di tapal-batas, mampu memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2008 dengan judul Kawasan Perbatasan Negriku.  Penulis bersama 54 calon pemenang mengikuti prosesi penentuan dan pengumuman calon pemenang selama 5 hari (30-4 Desember 2008) di Jakarta. Dalam 54 orang, hanya 47 dinyatakan sebagai pemenang dan berkesempatan  berjumpa Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, para menteri dan pejabat teras PB PGRI saat HGN/PGRI ke-63 di lapangan Tenis Indoor Jakarta.. 
Paparan ini sekedar berbagi informasi dan pengalaman dengan sesama rekan guru, pembaca Nuansa, sehingga  menginspirasi, memberi spirit dan energi, untuk segera memulai menulis. Selamat mencoba!
(adaptasi nuansaonline.net)

Pelajari Tahap Perkembangan Anak

Seorang pendidik haruslah mengetahui bagaimana pola atau tahap perkembangan yang sedang terjadi pada seorang anak. Hal ini dikarenakan untuk memberikan sesuatu kepada seorang anak haruslah sesuai dengan keadaan sosial dan emosi dari anak itu sendiri. Bukan hanya pendidik, tentunya hal ini juga sangat penting bagi orang tua yang menginginkan semua yang terbaik untuk anaknya ke depan.

Berikut beberapa tahap perkembangan manusia menurut Erikson.
 
1.Bayi (0-18 bulan): trust vs mistrust
Ini merupakan tahapan paling penting dalam hidup seseorang. Karena bayi belum bisa apa-apa, pengembangan kepercayaan tahap ini bergantung pada kualitas dari orang yang merawat. Jika orang yang merawat tidak stabil secara emosional, bayi akan tumbuh dengan rasa takut dan percaya bahwa dunia ini bukan tempat yang aman baginya. Pemberian ASI, MPASI, dan makanan padat pertama merupakan bagian penting dalam tahap ini karena menumbuhkan ikatan yang akan berujung pada rasa percaya.

2.Batita (1,5-3 tahun) : autonomy vs shame & doubt
Tahap ini seorang anak mulai belajar memiliki kendali yang lebih besar pada dirinya. Bagian penting dalam tahap ini adalah toilet training karena anak-anak akan belajar untuk mengendalikan bagian tubuhnya yang nantinya akan mengarah kepada perasaan memiliki kendali serta belajar kemandirian. Pada usia ini, anak-anak akan banyak bersikap “sok tahu” untuk memilih pakaian atau mainannya sendiri. Mungkin saja warna pakaian yang dipilihnya membuat orang tuanya sakit mata, namun itulah proses mereka untuk belajar mandiri.

3.Usia pra sekolah (3-6 tahun) : initiatives vs guilt
Dalam tahap pra sekolah, anak-anak mulai belajar berinteraksi secara sosial melalui permainan yang terarah. Mereka belajar bermain dengan aturan tertentu. Anak-anak yang berhasil melewati tahapan ini akan memiliki rasa percaya diri karena merasa mampu dan bisa memimpin teman-temannya. Mereka yang tidak berhasil menguasai ketrampilan ini akan cepat merasa bersalah, meragukan kemampuan diri serta tidak memiliki inisiatif.

4.Usia sekolah (7-12 tahun) : industry vs inferiority
Pada tahap ini anak-anak mengembangkan rasa bangga akan pencapaian dan kemampuan mereka. Anak-anak yang mendapatkan dukungan dan pengakuan dari orang tua, guru serta teman sepermainannya akan mengembangkan perasaan ‘saya bisa’ dan yakin akan kemampuan mereka. Mereka yang tidak mendapatkan dukungan tersebut akan meragukan kemampuan diri mereka untuk berhasil di masa mendatang. Kasus bullying umumnya mulai terjadi pada usia ini.

5.Remaja (12-19 tahun) : identity vs role confusion
Dalam tahap ini si remaja mulai mengeksplorasi kemandirian mereka serta mengembangkan konsep diri. Mereka yang mendapatkan dorongan positif akan memiliki rasa bangga akan dirinya serta kemandirian dan kendali yang kuat.

6.Dewasa muda (19-35 tahun) : intimacy vs isolation
Pada tahap dewasa muda ini, sangatlah penting bagi seseorang untuk mulai mengembangkan hubungan dekat dengan orang lain. Perlu diingat bahwa setiap tahapan mengacu pada ketrampilan yang sudah dipelajari pada tahapan sebelumnya. Studi menunjukkan bahwa mereka yang memiliki konsep diri yang rendah cenderung mempunyai hubungan yang berkomitmen rendah dan lebih mudah mengalami depresi.

7.Dewasa (35-60 tahun) : generativity vs stagnation
Dalam tahap ini, seseorang harus berkembang untuk membentuk dan memandu generasi yang baru, baik dari segi pekerjaan atau karir maupun keluarga. Memiliki anak tidak berarti seseorang sudah berhasil melewati tahap ini.

8.Usia Lanjut (60 tahun ke atas) : integrity vs despair
Tahapan terakhir dalam hidup ini umumnya berfokus pada refleksi pada kehidupan yang sudah dijalani. Mereka yang tidak berhasil melewati tahapan ini akan menyesali banyak hal dan merasa hidupnya sia-sia. Berhasil melewati tahapan ini berarti memiliki kepuasan akan hidup serta kebijakan bahkan sewaktu menghadapi kematian.

Sekolah Yang Ideal Untuk Anak

Sekolah Yang Ideal Untuk Anak. Anak tentunya adalah segalanya bagi kita para orang tua. Setiap hari kita bekerja membanting tulang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menafkahi kehidupan anak. Akan tetapi sudahkah anda memfasilitasi mereka dengan pendidikan yang layak? Berpikirlah dan mulai mencari sekolah yang terbaik bagi anak anda. Caranya? silahkan baca penjabaran yang kami adaptasi dari nuansaonline.net.

Libatkan anak ketika memilih sekolah. Seharusnya selalu disadari dan dipahami oleh orang tua, bahwa yang nantinya sekolah adalah anak, bukan oang tua. Maka, melibatkan anak dalam memilih sekolah merupakan langkah penting, meskipun usia prasekolah. Orang tua jangan menganggap remeh kemampuan anak, karena pada saat usia pra sekolah anak mengalami perkembangan fisik dan mental yang sangat pesat.
Tinggal bagaimana orang tua merangsang kemampuan anaknya. Kondisikan agar proses mencari sekolah dasar tidak menjadi beban berat bagi si anak melainkan menjadi proses belajar yang menyenangkan. Bagaimana jika ternyata pilihan anak jatuh pada sekolah yang menurut orangtua kurang sesuai? Di sinilah peran orang tua diperlukan.

Ketahuilah visi dan misinya. Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur dan realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi sekolah yang diinginkan, dapat dilihat di buku profil, brosur, papan nama atau media publikasi yang digunakan oleh sekolah tersebut. Dari visi dan misi yang dipaparkan dapat terlihat bagaimana orientasi tujuan dan profil output yang akan dihasilkan.
Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dari beberapa aspek, antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Tetapi kadang orang tua saat ini masih memandang aspek akademis menjadi pertimbangan pertama dalam memilih sekolah. Maka, tidak heran jika banyak orang tua yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan sekolah dengan prestasi akademik tinggi.
Pihak sekolah pun akan melakukan seleksi ketat terhadap calon siswanya. Hanya siswa yang memiliki IQ tinggi yang dapat diterima di sekolah yang bersangkutan. Dari kasus ini, Penulis jadi tergelitik, sebenarnya yang unggul sekolah atau siswanya. Sangat masuk logika, jika sekolah yang hanya menerima input baik-baik saja, kemudian out putnya juga baik.

Porsi Pendidikan Agama. Di era sekarang ini, dimana banyak kasus yang menimpa generasi penerus kita termasuk dalam hal ini para pelajar, mulai dari kasus tawuran, narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan menyimpang lainnya, maka peran pendidikan agama menjadi sangat signifikan terutama dalam membentuk kharakter dan perilaku siswa.

Kurikulum pembelajaran. Kurikulum bisa dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Dikarenakan di dalamnya berisi tentang perencanaan pembelajaran yang menyangkut semua kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik dalam perkembangan, baik formal maupun informal guna mencapai tujuan pendidikan. Walaupun penerapan kurikulum ini sudah diatur dan diseragamkan dari pusat, tetapi pihak penyelenggara pendidikan dapat melakukan modifikasi-modifikasi disesuaikan dengan kondisi sekolah, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Maka, sangat dimungkinkan akan terjadi kompetisi di antara sekolah-sekolah, tentang bagaimana menampilkan profil sekolah dan keunggulan-keunggulannya dalam hal muatan materi pembelajaran dan kegiatan sekolah. Oleh karena itu, orang tua dan calon siswa harus benar-benar jeli dan teliti dalam memilih sekolah terutama pertimbangan dari sisi kurikulum yang diterapkan sekolah tersebut.

Profil Pendidik. Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan tidak dapat dilepaskan dari andil guru. Boleh dikatakan guru sebagai ujung tombak pendidikan untuk mencetak dan mengkader generasi penerus yang didambakan. Apalah artinya kurikulum yang ideal jika tidak didukung oleh pelaksananya, yaitu sumber daya manusia yang cakap.

Gedung dan fasilitas. Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan prasarana yang mendukung. Mulai dari bangunan fisik, ruang kelas, taman, perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan kesenian, arena bermain, kantin, perlengkapan kelas, sampai dengan alat peraga edukasi yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah sekolah memiliki fasilitas akses jaringan internet dan website sendiri, dimana setiap stake holders dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya.

Lokasi sekolah dan lingkungan. Lokasi yang dimaksud dapat dipandang dari jarak sekolah ke rumah, lingkungan sekitar dan sarana transportasinya. Bisa dibayangkan seorang anak harus bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya jauh. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena jarak yang ditempuhnya memakan waktu yang lama. Belum lagi jika terjadi kemacetan lalu lintas, bisa dimungkinkan sering terlambat pulang maupun masuk sekolahnya. Lalu kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman? Bagaimana ia bisa mengembangkan interaksi dengan anggota keluarga lain di rumahnya? 

Biaya pendidikan. Barangkali bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini menjadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan sekolah yang dipilih, terutama bagi masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah ke bawah. Biaya pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum terdiri iuran SPP, bantuan pembangunan/gedung, seragam, buku, praktikum dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah yang dianggap favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan memasang biaya pendidikan yang tidak murah.

Ketertiban dan kebersihan sekolah. Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib dan lingkungan yang bersih tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran. Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh, penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu dan kurang optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah harus merasa senang dan betah seperti ketika berada di rumahnya sendiri (feels like second home).

Lihat prestasi dan keberhasilan alumninya. Kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih sekolah yang ideal adalah prestasi dan profil output-nya. Sekolah yang baik, selain unggul di dalam proses, juga unggul pada hasilnya. Seperti telah diuraikan di muka, yang disebut prestasi tidak hanya secara akademik, tetapi juga non akademik baik siswa, guru maupun institusinya.
Bagaimana perkembangan bakat dan potensinya, sikap, perilaku, kemandirian, keterampilan dan keahlian lain yang mendukung. Sedangkan Keberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah dapat diterima di sekolah lanjutan yang kualitasnya baik serta memiliki life skill yang cukup untuk mampu eksis di tengah masyarakat.
Dari paparan di atas, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua dan anak di tengah euforia kebingungan mencari sekolah yang ideal.

Trending Topic

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. si-Buta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger