Headlines News :

Kesehatan

Kesehatan

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Perang Uhud 6

Written By Ramalan Zodiak on Minggu, 25 Desember 2011 | 16.42

Cerita Sebelumnya :
Diantara ksatria yang terjun pada hari itu adalah Handzalah bin Abu Amir, ia baru saja menikah, maka ketika ia mendengar panggilan untuk berperang –padahal ia sedang bersama istrinya- segera ia melepaskan diri dari pelukan istrinya dan langsung bangkit pergi berjihad. Ketika ia bertemu pasukan musyrikin di medan pertempuran, ia menerobos barisan musuh, hingga sampai di hadapan komandan pasukan musyrikin Abu Sufyan, ia hampir saja membunuhnya andai saja Allah tidak menghalangi niatnya. Namun tiba-tiba datang Syaddad bin al-Aswad memukul Handzalah dengan pedang hingga ‘pengantin baru’ itu pun gugur di medan perang.

Kelompok yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW untuk mengambil posisi di Jabal ar-Rumah (gunung para pemanah), mempunyai andil besar dalam mengontrol arus serangan untuk kepentingan pasukan Muslimin. Pasukan berkuda Makkah di bawah pimpinan Khalid bin Walid telah menyerang tiga kali, untuk menghancurkan sayap pasukan Muslimin sebelah kiri, dengan tujuan menyusup ke bagian belakang pasukan Muslimin, untuk membuat kekacauan dan kebingungan di barisan mereka dan menimpakan kekalahan telak atas mereka, tetapi para pemanah menghujani mereka dengan anak panah hingga gagallah ketiga serangan mereka.

Begitulah kobaran perang yang sengit itu berlangsung, pasukan Muslimin yang kecil itu tetap menguasai seluruh medan, hingga melemahlah keteguhan para ksatria pasukan musyrikin dan barisan mereka mulai bercerai-berai dari arah kanan, kiri, depan dan belakang, seolah-olah tiga ribu orang musyrik sedang menghadapi tiga puluh ribu Muslimin, bukan melawan beberapa ratus Muslimin. Memang pasukan Muslimin menjelma dalam gambaran keberanian dan keyakinan yang luar biasa.

Setelah pasukan Quraisy mengerahkan semua tenaganya untuk menghadang serangan pasukan Muslimin, mereka pun merasakan lemah dan frustasi serta hilanglah semangat mereka hingga tidak satu pun dari mereka berani mendekati panji mereka yang telah jatuh setelah terbunuhnya Shawab. Mereka mulai mundur dan melarikan diri sambil melupakan apa yang mereka ucapkan di dalam diri mereka, berupa balas dendam, menuntut balas dan pengembalian kemuliaan, kehormatan dan kejayaan.

Allah menurunkan pertolonganNya kepada pasukan Muslimin dan memenuhi janjiNya pada mereka. Pasukan Muslimin membabat pasukan musuh dengan pedang-pedang hingga berhasil mengusir mereka dari perkemahan mereka dan kekalahan tidak diragukan lagi. Abdullah bin Zubair meriwayatkan dari bapaknya, bahwa bapaknya berkata, “Demi Allah aku telah melihat gelang kaki Hindun binti Uthbah dan teman-teman wanitanya karena berlarian tunggang langgang dan hampir saja mereka tertangkap”.

Bara’ bin Azib juga mengatakan, “Ketika kami bertemu mereka, mereka melarikan diri, bahkan aku melihat para wanita tertatih-tatih di bukit, sambil mengangkat betis-betis mereka hingga tampak pula gelang kaki mereka” (Bukhari II/579). Pasukan Muslimin mengejar pasukan musyrikin, menghujani mereka dengan senjata dan mengumpulkan harta rampasan perang.

Ketika pasukan Muslimin yang sedikit itu untuk kedua kalinya mencatat kemenangan besar atas Makkah, suatu kemenangan yang tidak kalah mengesankannya daripada kemenangan yang mereka peroleh di medan Badar, terjadilah kesalahan fatal dari mayoritas pasukan pemanah, hingga membalikkan total keadaan dan menyebabkan kerugian besar pada pasukan Muslimin, bahkan hampir saja menjadi penyebab terbunuhnya Rasulullah SAW. Hal ini benar-benar telah memberikan kesan buruk bagi kredibilitas dan kewibawaan yang telah mereka nikmati setelah perang Badar.

Padahal Rasulullah SAW telah memberikan perintah-perintah tegas kepada para pasukan pemanah itu, agar mereka tetap di tempat mereka di gunung dalam situasi apapun, baik menang atau pun kalah. Tetapi meski ada perintah-perintah yang demikian kerasnya, ketika mereka melihat pasukan Muslimin sedang mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang musuh), ego mereka yang cinta dunia menang, sebagian berkata kepada yang lain, Ghanimah! Ghanimah! Para sahabat kalian telah menang, apa lagi yang kalian tunggu?”. Adapun komandan mereka Abdullah bin Jubair, benar-benar telah mengingatkan mereka akan perintah-perintah Rasulullah SAW, dia berkata, “Apakah kalian lupa pesan Rasulullah kepada kalian?” Tetapi mayoritas pasukan tidak peduli sama sekali akan peringatan ini, mereka berkata, “Demi Allah, kami akan bergabung dengan mereka, sehingga kami akan memperoleh harta rampasan perang” (Bukhari I/426)

Kemudian empat puluh prajurit atau lebih dari pasukan pemanah itu meninggalkan posisi mereka di bukit dan bergabung dengan mayoritas pasukan untuk ikut bersama mereka mengumpulkan ghanimah. Dengan demikian bagian belakang pasukan Muslimin tidak terlindungi, karena pasukan pemanah itu tidak tersisa kecuali Ibnu Jubair dan sembilan anak buahnya, atau kurang dari itu, mereka tetap pada posisi mereka, bertekad untuk tetap di sana hingga diizinkan bubar.

Khalid bin Walid komandan pasukan berkuda musuh, memanfaatkan kesempatan emas ini, ia berputar dengan sangat cepat, hingga sampai di belakang pasukan Islam, tidak berapa lama kemudian ia pun membantai Abdullah bin Jubair dan anak buahnya lalu menyerbu pasukan Muslimin dari arah belakang mereka. Pasukan berkuda anak buah Khalid bin Walid berteriak, hingga pasukan musuh yang kalah itu tahu adanya perkembangan baru, maka mereka berbalik ke arah pasukan Muslimin. Salah seorang wanita mereka -Amrah binti Alqamah- berlari dengan cepat dan mengangkat panji pasukan Quraisy yang tergeletak di tanah, sehingga orang-orang musyrikin berkumpul di sekelilingnya dan mengerumuninya, sebagian mereka memanggil sebagian yang lain hingga mereka berkumpul untuk menyerang pasukan Muslimin dan mereka pun bertahan dengan penuh semangat menghadapi pertempuran, sehingga pasukan Muslimin terkepung dari depan dan belakang, terjepit di tengah-tengah medan pertempuran.
 
Pada waktu itu Rasulullah SAW bersama sekelompok kecil, yaitu sembilan orang sahabatnya di bagian belakang pasukan Muslimin. Rasulullah sedang mengawasi mereka yang sedang membunuh dan mengejar pasukan Quraisy, ketika secara tiba-tiba diserang oleh pasukan berkuda Khalid. Rasulullah SAW dihadapkan pada dua pilihan, yang pertama beliau menyelamatkan diri dengan cepat bersama sembilan sahabatnya ke tempat perlindungan yang aman dan membiarkan pasukannya yang terkepung menuju takdirnya yang telah tertulis, sedang yang kedua mempertaruhkan nyawanya dan menyeru para sahabatnya agar berkumpul di sekitarnya kemudian bersama mereka membentuk barisan yang cukup kuat untuk beliau gunakan membuka jalan-jalan menuju ke arah bukit-bukit Uhud bagi para pasukannya yang terkepung.

Perang Uhud 4

Cerita sebelumnya :
Rasulullah melarang para pasukannya memulai serangan sebelum beliau memerintahkan mereka. Beliau memakai baju besinya, memotivasi para sahabatnya untuk berperang dan mendorong mereka bersabar dan tegar ketika berhadapan dengan musuh, kemudian meniupkan semanangat keberanian dan patriotisme kepada para sahabatnya.

Rasulullah menghunus sebilah pedang yang sangat tajam lalu menyeru para sahabat, “Siapa yang sanggup memegang pedang ini dengan memenuhi haknya?” Maka beberapa orang maju untuk mengambilnya – diantara mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Zubair bin al-Awwam dan Umar bin Khathab – hingga akhirnya Abu Dujanah bin Kharsyah mendekati Rasulullah dan bertanya, “Apa haknya pedang ini wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Engkau membabat dengan pedang ini wajah-wajah musuh hingga menunduk”. Ia berkata, “Akulah yang akan mengambil pedang itu dengan haknya wahai Rasulullah!”. Rasulullah pun memberikan pedangnya kepada Abu Dujanah.
Abu Dujanah adalah seorang pemberani yang sombong terhadap musuh di medan perang. Ia mempunyai ikat kepala merah, jika ia telah memakainya, maka orang-orang tahu bahwa ia akan bertempur hingga mati. Diraihnya pedang Rasulullah dan ia kenakan ikat kepala itu, lalu ia berjalan dengan sombongnya diantara dua pasukan, pada saat itu Rasulullah SAW bersabda, “Cara berjalan semacam itu dibenci oleh Allah kecuali di tempat seperti ini” (HR.Bukhari).
Sementara komando orang-orang kafir Quraisy dipegang oleh Abu Sufyan yang berada di tengah-tengah pasukan, sedang Khalid bin Walid di sayap kanan, Ikrimah bin Abu Jahal di sayap kiri, Shafwan bin Umayyah memimpin pasukan pejalan kaki dan Abdullah bin Rabi’ah memimpin pasukan pemanah. Panji-panji perang mereka diserahkan kepada sekelompok orang dari Bani Abdud Dar yang dipimpin oleh Thalhah bin Abu Thalhah al-Abdari.

Semakin dekatlah saat peperangan dan kedua pasukan sudah saling mendekat. Para wanita Quraisy  dipimpin oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan berkeliling di tengah-tengah barisan memukul rebana, membakar semangat kaum pria, memotivasi mereka untuk berperang, membangkitkan dendam kesumat para pahlawan dan menggerakkan emosi pasukan. Tidak sedikit di antara mereka yang membawa budak-budak yang dijanjikan akan  diberikan hadiah yang besar apabila mereka dapat membalaskan dendam atas kematian seorang ayah, saudara, suami atau orang-orang yang dicintai lainnya.

Tahapan-tahapan perang telah dimulai, pemicu pertempuran pertama adalah pembawa panji pasukan Quraisy, Thalhah bin Abu Thalhah al-Abdari, ia adalah salah satu prajurit Quraisy yang pemberani, pasukan Muslimin menjulukinya mesin perang. Ia keluar dengan menunggang seekor unta, ia menentang duel, tetapi orang-orang tidak mau menghadapinya karena keberaniannya yang luar biasa. Majulah Zubair bin Awwam menghadapinya tanpa memberinya kesempatan dan langsung menikamnya bagaikan singa, hingga ia melompat ke atas unta yang ditunggangi Thalhah, kemudian ia menjerembabkan unta itu ke bumi, lalu melemparkan Thalhah dari atas untanya dan memenggal kepalanya dengan pedangnya.

Rasulullah menyaksikan perkelahian yang menarik ini, maka beliau bertakbir dan diikuti oleh pasukan Muslimin, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya setiap Nabi punya Hawariy (pengikut setia) dan Hawariyku adalah Zubair”
Api peperangan semakin berkobar, pertempuran antara kedua pasukan menghebat di setiap titik medan peperangan. Darah orang-orang kafir Quraisy sudah mendidih ingin menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka yang sudah tewas setahun yang lalu di Badar. Dua kekuatan yang tidak seimbang itu, baik jumlah orang maupun  perlengkapan, sekarang berhadap-hadapan. Kekuatan dengan jumlah yang besar ini motifnya adalah balas dendam, yang sejak perang Badar tidak pernah reda. Sedang jumlah yang lebih kecil motifnya adalah, mempertahankan akidah, mempertahankan iman dan agama Allah.

Kedahsyatan peperangan terkonsentrasi di sekitar panji pasukan Quraisy. Banu Abdud Dar silih berganti membawa panji itu setelah terbunuhnya komandan mereka, Thalhah bin Abu Thalhah. Panji itu lalu dibawa oleh saudaranya Abu Syaibah Utsman bin Abu Thalhah. Hamzah bin Abdul Muthalib langsung menyerangnya dan menebas pundaknya dengan tebasan yang memisahkan tangan dari pundaknya, hingga tebasan itu sampai di pusarnya dan teburailah isi perutnya. Kemudian panji itu diambil alih oleh Abu Said bin Abu Thalhah, lalu Sa’ad bin Abi Waqqash memanahnya dengan anak panah hingga mengenai tenggorokannya, ia menjulurkan lidahnya dan mati seketika. Selanjutnya panji beralih pada Musafi’ bin Abu Thalhah, ia pun tewas ditembus anak panah milik ‘Ashim bin Tsabit, setelah itu panji diambil alih oleh saudaranya Kilab bin Abu Thalhah, lalu ia diserang oleh Zubair bin Awwam  hingga tewas.

Ketika kedahsyatan perang berpusat di sekitar panji pasukan Quraisy, saat itu pertempuran yang mengerikan pun terjadi di seluruh titik-titik peperangan. Ruh iman menyelimuti seluruh pasukan Muslimin, mereka menyerbu ke tengah-tengah pasukan Quraisy laksana aliran banjir bandang yang menjebol bendungan-bendungan.

Abu Dujanah maju dengan mengeluarkan ikat kepala merah, lalu ia mengikatkan ikat kepala kematian itu di kepalanya, sambil berkata, “Akulah orang yang telah diambil janji oleh kekasihku, ketika kami di kaki gunung di bawah pohon kurma, agar untuk selamanya tidak berada di barisan belakang, aku membabat musuh dengan pedang Allah dan RasulNya. Ia membawa pedang Rasulullah bertekad memenuhi hak-haknya, lalu bertempur hingga masuk ke dalam tengah-tengah pasukan, setiap kali ia bertemu orang kafir Quraisy pasti ia membunuhnya, ia memporak-porandakan barisan lawan. Sampai suatu ketika ia menyaksikan pemandangan Hindun binti Uthbah sedang mencincang tubuh-tubuh orang Islam yang gugur di medan perang, Abu Dujana segera menghampirinya lalu meletakkan pedang di belahan kepala wanita itu, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk membunuh, ditariknya lagi pedangnya sambil berkata, “Terlalu mulia rasanya pedang Rasulullah digunakan untuk membunuh wanita”.

Hamzah bin Abdul Muthalib bertempur laksana singa-singa yang diusik, ia menyerbu ke tengah-tengah pasukan Quraisy dengan hebat tiada bandingnya. Pasukan Quraisy bercerai-berai karena serangannya laksana dedaunan yang beterbangan diterpa angin kencang, disamping itu dia banyak terlibat dalam pembunuhan terhadap para pembawa panji pasukan kafir Quraisy dan para ksatria Quraisy yang lain, hingga akhirnya ia terbunuh dalam keadaan di barisan depan para ksatria utama Quraisy, tetapi tidak terbunuh secara berhadap-hadapan di medan perang sebagaimana terbunuhnya para ksatria tersebut, tetapi seperti terbunuhnya para orang mulia secara diam-diam di tengah-tengah kegelapan.

Perang Uhud 3

Cerita sebelumnya :
Ketika Rasulullah sampai di suatu tempat bernama Asy-Syaikhani, beliau menginspeksi pasukannya dan menolak mereka yang beliau anggap masih kecil dan belum sanggup berperang, diantaranya, Abdullah bin Umar bin Khattab, Usamah bin Zaid, Usaid bin Dhuhair, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, Arabah bin Aus, Amr bin Hazm, Abu Sa’id al-Khudri, Zaid bin Haritsah al-Anshari dan Sa’ad bin Hibbah. Rasulullah mengijinkan Rafi’ bin Khidaij dan Samurah bin Jundub meski keduanya berusia muda, hal itu karena Rafi’ bin Khidaij mahir dalam membidikkan anak panah sedangkan Samurah bin Jundub lihai dalam bertarung.
Pasukan Muslimin tiba di tempat ini menjelang maghrib. Mereka shalat maghrib lalu shalat Isya dan bermalam di sana. Rasulullah memilih 50 orang untuk menjaga perkemahan dengan berkeliling di sekitarnya, komandan mereka adalah Muhammad bin Maslamah al Anshari.

Sesaat sebelum fajar menyingsing Rasulullah bersama pasukan Muslimin melanjutkan perjalanan hingga tiba di daerah Syauth pada waktu subuh. Possisi Rasulullah sudah sangat dekat dengan musuh, beliau dapat melihat mereka dan mereka pun dapat melihat beliau. Di sanalah Abdullah bin Ubay sang munafik membelot, ia pulang bersama sekitar 300 pasukan sambil berkata, “Kami tidak tahu mengapa kami harus bunuh diri?”. Perkataan itu merupakan protes atas putusan Rasulullah yang menolak pendapatnya untuk menghadapi musuh di dalam Madinah dan menyetujui pendapat orang lain yang lebih cenderung menyongsong musuh di luar Madinah.  

Pembelotan itu sebenarnya bukan semata-mata karena penolakan Rasulullah atas pendapatnya, akan tetapi ada tujuan besar yang ia rencanakan, yaitu membuat kekacauan dan keraguan di dalam tubuh pasukan Muslimin di hadapan musuh mereka, supaya mayoritas pasukan meninggalkan Rasulullah, sedang pasukan yang masih bertahan bersama beliau akan padam semangat mereka. Sementara musuh akan semakin berani dan semangatnya makin meningkat karena melihat pemandangan ini, hal itu akan semakin mempercepat pembunuhan atas Rasulullah dan para sahabatnya yang setia, setelah itu suasana menjadi tenang karena kepemimpinan kembali ke pangkuan si munafik ini dan para sahabatnya.

Abdullah bin Ubay sang munafik hampir saja berhasil merealisasikan sebagian apa yang telah menjadi tujuannya. Dua kelompok, masing-masing Bani Haritsah dari suku Aus dan Bani Salamah dari suku Khazraj telah bertekad untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan kedua kelompok itu, maka keduanya menjadi tenang kembali setelah sebelumnya dalam diri kedua kelompok itu bergemuruh keraguan dan keinginan untuk pulang kembali dan memisahkan diri. Tentang keduanya Allah berfirman :
“Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu, karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal” (QS.3:122)

Abdullah bin Haram – ayah Jabir bin Abdullah – berupaya mengingatkan orang-orang munafik akan kewajiban mereka pada situasi genting ini, ia mengikuti mereka sambil mencela dan meminta mereka kembali, seraya berkata, “Kembalilah, berperanglah di jalan Allah atau bertahanlah!”. Mereka menjawab, “Andai kami tahu kalian akan berperang, kami tidak akan pulang”. Maka Abdullah bin Haram meninggalkan mereka seraya berkata, “semoga Allah membinasakan kalian wahai musuh-musuh Allah, Allah akan mencukupi RasulNya tanpa bantuan kalian”.

Tentang orang-orang munafik ini Allah berfirman,
“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian)’, mereka berkata, ‘sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian’, mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. (QS.3:167)

Setelah terjadinya pembelotan Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, Rasulullah memimpin sisa pasukan yang berjumlah 700 untuk melanjutkan perjalanannya menuju arah musuh. Antara lokasi perkemahan pasukan musyrikin dan gunung Uhud terhalang oleh tempat-tempat yang banyak, maka Rasulullah bertanya, “Siapakah diantara kalian yang bisa mengantarkan kami mendekati pasukan musuh melalui jalan yang dekat tanpa harus melewati mereka?”. Abu Khaitsamah berkata, “Aku wahai Rasulullah”, lalu dia mengambil jalan pintas menuju Uhud dengan melalui tanah lapang dan ladang Bani Haritsah, sedangkan posisi musuh di kanan mereka.

Dalam perjalanan ini pasukan Muslimin melewati kebun Marba’ bin Qaidhi – seorang munafik yang buta matanya – ketika ia merasakan kehadiran mereka, ia menaburkan debu ke muka kaum Muslimin seraya berkata, “Jika engkau Rasulullah, aku tidak memberimu ijin masuk kebunku!”. Maka pasukan Muslimin bergegas hendak membunuhnya, tetapi Rasulullah berkata, “Kalian jangan membunuhnya, orang ini buta mata dan buta hati”.

Rasulullah melanjutkan perjalanannya hingga tiba di jalan yang ada di gunung Uhud, di tepi sebuah lembah, selanjutnya beliau bersama pasukannya mendirikan perkemahan menghadap Madinah dan membelakangi kaki gunung Uhud.

Di situlah Rasulullah memobilisasi pasukannya, menyiapkan mereka menjadi beberapa barisan untuk berperang dan memilih 50 pasukan pemanah ulung dari mereka. Abdullah bin Jubair bin Nu’man dipercaya sebagai komandan pasukan pemanah. Rasulullah memerintahkan agar pasukan pemanah bertahan di sebuah bukit yang terletak di tepi selatan lembah Qanah, sebelah tenggara perkemahan pasukan Muslimin. Tujuan penempatan itu adalah seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah dalam instruksi beliau, “Lindungilah arah belakang kami, jika kalian melihat kami dibunuh maka janganlah kalian menolong kami dan jika kalian melihat kami telah mendapatkan rampasan perang maka kalain janganlah ikut bersama kami”. (HR.Ahmad, ath-Thabari, al-Hakim dari Ibnu Abbas)
Dan dalam riwayat al-Bukhari beliau berkata, “Jika kalian melihat kami dikalahkan musuh maka kalian jangan meninggalkan tempat kalian ini hingga aku mengutus utusan kepada kalian, dan apabila kalian melihat kami telah mengalahkan pasukan musuh itu dan mencerai-beraikan mereka, maka janganlah meninggalkan tempat ini, hingga aku mengutus utusan kepada kalian”.

Dengan penempatan pasukan pemanah di bukit, Rasulullah telah menutup satu-satunya celah yang mungkin menjadi jalan bagi pasukan musyrikin menyusup ke barisan pasukan Muslimin lalu melakukan gerakan-gerakan pengepungan dan taktik pemblokiran. Adapun posisi sisa pasukan, Rasulullah menempatkan pada sayap kanan Mundzir bin Amr dan menempatkan pada sisi kiri Zubair bin al-Awwam dibantu oleh Miqdad bin al-Aswad. Zubair diberikan tugas untuk bertahan menghadapi pasukan berkuda Khalid bin Walid. Sementara di bagian depan Rasulullah menempatkan para prajurit pilihan yang terdiri dari para pemberani dan terkenal dengan kemampuan bertarungnya.

Taktik yang sangat cerdik dan rapi. Dalam taktik ini tampak kecerdasan kepemimpinan Rasulullah di bidang militer. Tidak mungkin bagi komandan mana pun meski kecakapannya luar biasa, untuk membuat taktik yang lebih cerdik dan lebih matang daripada taktik ini. Rasulullah benar-benar telah menempati posisi paling strategis dari medan peperangan, padahal beliau tiba di sana setelah musuh. Punggung dan sayap kanan pasukan terlindungi dengan cara menutup satu-satunya celah yang berada di sisi pasukan Muslimin. 

Rasulullah memilih dataran tinggi untuk perkemahan pasukannya supaya dapat berlindung di sana – jika kekalahan menimpa pasukan Muslimin – dan tidak melarikan diri, sehingga mereka tidak jatuh dalam genggaman musuh yang mengejar dan tidak pula tertawan, bahkan sebaliknya, beliau akan menimpakan kerugian yang sangat besar kepada musuh-musuhnya jika mereka berusaha menguasai perkemahan pasukan Muslimin. Dengan demikian beliau memaksa musuh-musuhnya mengambil posisi di dataran rendah yang sulit sekali bagi mereka untuk memperoleh sedikit pun manfaat dari kemenangan, jika kemenangan berada di pihak mereka, disamping itu sulit bagi mereka untuk menghindar dari pasukan Muslimin yang mengejar jika kemenangan di pihak pasukan Muslimin. 

Rasulullah melarang para pasukannya memulai serangan sebelum beliau memerintahkan mereka. Beliau memakai baju besinya, memotivasi para sahabatnya untuk berperang dan mendorong mereka bersabar dan tegar ketika berhadapan dengan musuh, kemudian meniupkan semanangat keberanian dan patriotisme kepada para sahabatnya...

Perang Uhud 2

Rasulullah SAW mengadakan pertemuan dengan kaum Muslimin untuk bertukar pikiran guna menetapkan strategi pertempuran. Lalu beliau mengemukakan pendapat agar pasukan Muslimin tidak keluar dari Madinah, namun bertahan di dalamnya. Jika kaum kafir berani memasuki kota, mereka akan diperangi oleh kaum Muslimin di mulut-mulut gang dan dibantai para wanita dari atap-atap rumah. Pendapat Rasulullah SAW itu didukung penuh oleh ‘gembong orang-orang munafik’ Abdullalh bin Ubay bin Salul, dia berkata, “Wahai Rasulullah, biasanya kami bertempur di tempat ini, kaum wanita dan anak-anak  sebagai benteng kami lengkapi dengan batu. Selain itu kota kami ini juga terlindungi oleh bangunan-bangunan yang rapat sehingga cukup menjadi benteng dari segenap penjuru. Jika musuh sudah datang, maka wanita-wanita dan anak-anak akan melempari mereka dengan  batu. Kami sendiri akan menghadapi mereka di jalan-jalan dengan pedang. Wahai Rasulullah, kota kami ini masih belum pernah  diterobos musuh. Setiap kali ada musuh menyerbu kami ke dalam kota ini kami selalu dapat menguasainya, tetapi jika kami menyerbu musuh keluar, maka kamilah yang dikuasai....”

Pendapat yang dikemukakan oleh Abdullah bin Ubay itu banyak mendapat persetujuan dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW, baik Muhajirin ataupun Anshar. Walaupun sebenarnya pendapat itu tidak didasari oleh sudut pandang strategi peperangan yang sesungguhnya, tetapi agar dia sedapat mungkin menghindari peperangan tanpa dicurigai oleh seorang pun. Dia takut terbunuh dalam peperangan.
Namun segolongan tokoh utama sahabat mengusulkan kepada Rasulullah agar menyongsong musuh di luar Madinah. Mereka bersikeras dengan usulan itu hingga salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah... Jika Allah memberikan kemenangan kepada kita, itulah yang kita harapkan. Kalau pun kita mengalami kekalahan dan mati syahid, kita akan mendapat surga! Keluarlah menyongong musuh-musuh kita, supaya mereka tidak menganggap kita pengecut dan tidak mempunyai keberanian menghadapi mereka”.
Kata-kata yang membakar semangat keberanian dan mati syahid itu sangat menggetarkan hati  mereka. Jiwa mereka tergugah semua untuk bersepakat memilih cara menghadapi musuh di luar Madinah. Pedang-pedang mereka akan mencerai-beraikan musuh-musuh Allah dan rampasan perang akan mereka kuasai. Lukisan surga tergambar di pelupuk mata mereka. Di situ akan  terdapat segala yang menyenangkan hati dan mata, akan bertemu dengan sanak keluarga yang juga sudah turut berperang dan mati syahid.
Hamzah bin Abdul Muthalib paman Rasulullah pun berkata, “Demi Dzat yang menurunkan kitab al-Quran kepadamu, aku tidak akan makan makanan hingga aku membabat mereka dengan pedangku di luar Madinah”.

“Semoga Allah memberikan kemenangan kepada kita, atau sebaliknya kita mati syahid,”  kata Khaithama Abu Sa’d bin Khaithama, “Dalam perang Badar aku bersama anakku telah  turut ambil bagian dalam pertempuran  itu. Tapi rupanya dia yang beruntung, karena dia telah gugur, mati syahid. Semalam aku bermimpi bertemu dengan  anakku, dia  berkata :  Susullah kami, kita bertemu dalam surga. Sudah kami terima apa yang dijanjikan Allah  kepada kami. Ya Rasulullah, aku akan menemuinya dalam surga. Aku sudah tua, tulang sudah rapuh. Aku ingin  bertemu Tuhanku”.

Akhirnya Rasulullah membatalkan niatnya untuk menghadapi pasukan kafir di dalam Madinah karena bertentangan dengan kemauan tokoh-tokoh utama sahabat, sehingga keputusan akhir adalah keluar dari Madinah dan berperang di medan terbuka.

Hari itu hari Jum’at.  Rasulullah sholat bersama kaum Muslimin, lalu memberikan nasehat dan memerintahkan kepada mereka agar bersungguh-sungguh dalam berjuang membela agama Allah. Lalu kepada mereka diberitahukan, bahwa atas ketabahan hati mereka itu,  mereka akan memperoleh kemenangan. Kaum Muslimin bergembira dan makin bersemangat mendengar khutbah Rasulullah itu.

 Selesai  sholat Ashar Rasulullah masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kemudian keduanya memakaikan sorban dan pakaian beliau, setelah itu beliau mengenakan baju besi lalu mengambil pedang dan keluar menemui pasukan Muslim.

Kaum Muslimin telah menunggu beliau keluar, sementara Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair berkata kepada mereka, “Kalian telah memaksa Rasulullah bertempur di luar Madinah, padahal beliau menghendaki untuk bertahan di dalam Madinah. Semestinya kita serahkan keputusan sepenuhnya kepada beliau. Apa perintah beliau, kita jalankan dan apa kehendak beliau, kita taati”.

 Mendengar  penjelasan itu mereka semua menyesal telah menentang keinginan Rasulullah  mengenai sesuatu yang mungkin itu wahyu dari Allah. Maka ketika Rasulullah keluar mereka berkata, “Wahai Rasulullah... Kami tidak berniat menentangmu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki. Jika kau lebih senang menghadapi musuh di dalam Madinah, lakukankah...”

Rasulullah menjawab, “Tidak pantas bagi seorang nabi jika telah mengenakan baju besinya lalu menanggalkannya kembali, hingga Allah memberikan keputusan antara dirinya dengan musuhnya”.

Demikianlah prinsip musyawarah itu oleh Rasulullah sudah dijadikan undang-undang dalam  kehidupannya. Apabila suatu masalah yang dibahas telah diterima dengan suara terbanyak,

maka hal itu tak dapat dibatalkan oleh sesuatu keinginan atau karena ada maksud-maksud  tertentu.
Selanjutnya Rasulullah mengelompokkan pasukannya menjadi tiga bagian, pasukan Muhajirin dengan Mush’ab bin Umair sebagai pembawa panjinya, pasukan suku Aus dari Anshar dengan Usaid bin Khudhair sebagai pembawa panjinya dan pasukan Khazraj yang panjinya diserahkan kepada Hubab bin Mundzir.
Seluruh pasukan Muslimin berjumlah seribu orang, diantara mereka ada seratus prajurit berperisai dan tidak satu pun diatara mereka yang berkuda. Rasulullah mengangkat Ibnu Ummi Maktum menjadi imam shalat di Madinah bersama mereka yang tinggal di sana, lalu beliau mengumumkan saat keberangkatan, maka bergeraklah pasukan ke arah utara, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah berlari di depan Rasulullah dengan mengenakan baju besi.
Tatkala Rasulullah melewati Tsaniyatul Wada’ beliau melihat ada sekelompok pasukan dengan persenjataan lengkap yang tampak berbeda sendiri dari pasukan induk, maka beliau bertanya tentang pasukan itu, beliau diberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi yang merupakan sekutu suku Khazraj, mereka ingin ikut serta dalam perang melawan pasukan musyrikin.

Rasulullah bertanya, “Apakah mereka masuk Islam?”
Para sahabat menjawab, “Tidak.”

Maka Rasulullah tidak mau minta bantuan pada orang-orang kafir untuk memerangi orang-orang musyrik.
Ketika Rasulullah sampai di suatu tempat bernama Asy-Syaikhani, beliau menginspeksi pasukannya dan menolak mereka yang beliau anggap masih kecil dan belum sanggup berperang, diantaranya, Abdullah bin Umar bin Khattab, Usamah bin Zaid, Usaid bin Dhuhair, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, Arabah bin Aus, Amr bin Hazm, Abu Sa’id al-Khudri, Zaid bin Haritsah al-Anshari dan Sa’ad bin Hibbah.

Perang Uhud 1

Sejak terjadinya perang Badar pihak Quraisy sudah tidak pernah tenang lagi. Mereka terbakar amarah terhadap kaum Muslimin atas tragedi kekalahan dan terbunuhnya para tokoh dan bangsawan mereka. Ambisi balas dendam pun terus bergemuruh di dalam dada kaum kafir Quraisy. Bagaimana Quraisy akan dapat melupakan peristiwa  itu, sementara wanita-wanita  Mekkah selalu ingat akan korban-korban yang terbunuh terdiri dari anak, saudara, bapak, suami atau sahabat-sahabat mereka.

Kaum kafir Quraisy telah bersepakat akan kembali berperang habis-habisan melawan kaum Muslimin untuk memadamkan kemarahan dan mengobati dendam mereka. Persiapan pun mereka lakukan dengan mengumpulkan barang dagangan dari kafilah Abu Sufyan yang berhasil diselamatkan dari perang Badar. Pembesar-pembesar Quraisy yang terdiri dari Jubair bin  Mut'im,  Shafwan  bin  Umayya', Ikrima bin Abi Jahl, Harith bin Hisyam, Huaitib bin Abd'l 'Uzza dan yang lain, telah mencapai kata sepakat akan menjual kafilah dagang itu, keuntungannya akan disisihkan untuk biaya menyiapkan angkatan perang guna memerangi Muhammad bersama kaum Muslimin. Mereka berkata, “Wahai orang-orang Quraisy! Sesungguhnya Muhammad telah menghinakan kalian dan membunuh orang-orang terbaik kalian, maka bantulah kami dengan harta benda kalian untuk memeranginya, semoga kita dapat membalas dendam kita kepadanya”.  

Mengenai peristiwa itu Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah, mereka akan membelanjakan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan” QS. Al Anfal : 36.

Kemudian kaum Quraisy mengumpulkan para sukarelawan yang ingin ambil bagian dalam memerangi kaum Muslimin. Sementara Shafwan bin Umayyah membujuk Abu Izzah, seorang penyair yang pada waktu perang Badar telah ditawan dan diberi ampunan oleh Rasulullah dengan membebaskannya tanpa tebusan dan memintanya berjanji untuk tidak memusuhi beliau. Shafwan membujuk Abu Izzah untuk memprovokasi para kabilah agar melawan kaum Muslimin dan berjanji kepadanya jika ia pulang dari perang dalam keadaan hidup ia akan dicukupi kebutuhan hidupnya, jika ia terbunuh, keluarganya akan mendapat jaminan kesejahteraan. Abu Izzah pun bangkit memprovokasi para kabilah dengan bait-bait syairnya yang membakar dendam mereka.

Setelah genap satu tahun, kaum kafir Quraisy telah menyempurnakan persiapannya dengan menggalang tiga ribu pasukan yang siap bertempur melawan kaum Muslimin. Para pemimpin Quraisy memandang penting keikutsertaan para wanita dalam barisan pasukan, untuk menyemangati kaum laki-laki berperang mati-matian tanpa harus tercoreng kemuliaan dan kehormatan mereka.
"Biarlah para wanita bertugas membakar kemarahan  kalian dan mengingatkan kalian kepada  korban-korban Badar. Kita adalah masyarakat yang sudah bertekad mati, tidak akan pulang sebelum sempat melihat mangsa kita mati, atau kita sendiri mati untuk itu." Kata salah satu diantara tokoh-tokoh Quraisy.

"Saudara-saudara kaum Quraisy,” kata tokoh Quraisy yang lain, “Membiarkan wanita-wanita  kita ikut berperang, bukanlah suatu pendapat yang baik. Jika kita mengalami kekalahan, wanita-wanita kita pun akan tercemar.”

Sementara mereka sedang dalam perundingan itu tiba-tiba Hindun binti 'Utba, istri Abu Sufyan  berteriak kepada mereka yang menentang ikut sertanya kaum wanita dalam  perang.
“Kamu yang selamat dari perang Badar, kamu kembali saja kepada isterimu! Kita tetap akan berangkat dan ikut menyaksikan peperangan. Jangan ada orang yang menyuruh kami pulang seperti dulu dalam perjalanan ke Badar. Kami disuruh kembali, tetapi kemudian orang-orang yang menjadi kesayangan kami terbunuh, karena tidak ada orang yang dapat membakar semangat mereka..!”
Akhirnya pihak Quraisy berangkat dengan membawa serta kaum wanitanya yang berjumlah lima belas orang, dipimpin oleh Hindun. Dialah orang yang paling geram ingin membalas  dendam, karena  dalam  peristiwa  Badar itu ayahnya, saudaranya dan orang-orang yang  dicintainya telah tewas. Keberangkatan pasukan Quraisy dengan tujuan Madinah yang disiapkan dari Darun-Nadwa itu terdiri 3000 orang dengan mengendarai 3000 onta, dipimpin oleh Talha bin Abi Talha, 200 pasukan berkuda dipimpin oleh Khalid bin Walid, dibantu oleh Ikhrimah bin Abu Jahal. Selain itu mereka juga dilengkapi dengan 700 perisai. Sementara komando pusat dipegang oleh Abu Sufyan dan pembawa bendera perang adalah Bani Abdud-Dar.

Setelah pasukan Quraisy melakukan persiapan matang, berangkatlah mereka menuju Madinah. Dendam lama dan kemarahan yang terpendam menyulut api kebencian dan menanti apa yang akan terjadi pada perang yang dahsyat nanti.
Sementara itu Abbas bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah SAW, yang juga berada di tengah-tengah mereka, memperhatikan semua kejadian dengan teliti. Disamping kecintaannya pada agama nenek moyangnya dan agama golongannya sendiri, Abbas juga sangat menyayangi dan mengagumi Muhammad. Masih ingat ia perlakuannya yang begitu baik ketika perang Badar. Hal inilah yang mendorong Abbas sampai mengirim surat kepada Rasulullah SAW untuk memberitahukan secara rinci rencana-rencana pasukan Quraisy dalam rangka persiapan menyerbu kaum Muslimin di Madinah. Abbas mengutus seseorang dari kabilah Ghifar untuk bergegas menyampaikan surat itu kepada Rasulullah SAW. Dalam waktu tiga hari utusan Abbas berhasil sampai ke Madinah dan langsung menyampaikan surat itu kepada Rasulullah SAW yang saat itu sedang berada di masjid Quba. 

Surat itu dibacakan kepada Rasulullah SAW oleh Ubay bin Ka’ab, lalu beliau memintanya untuk merahasiakan isinya, kemudian beliau pulang dengan cepat ke Madinah dan bertukar pikiran dengan para pemuka Muhajirin dan Anshar. Sejak saat itu Madinah senantiasa berada dalam kondisi siaga penuh, kaum laki-laki tidak pernah menanggalkan senjata walau dalam keadaan shalat sekalipun. Hal itu mereka lakukan sebagai persiapan menghadapi sesuatu yang tak terduga.

Beberapa tokoh Anshar berjaga-jaga di depan pintu rumah Rasulullah SAW sambil membawa senjata, diantaranya Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Khudair dan Sa’ad bin Ubadah. Sedangkan di pintu-pintu masuk Madinah ada beberapa kelompok kaum Muslimin yang menjaganya, karena khawatir jika mereka diserang secara tiba-tiba.  

Sementara itu pasukan Quraisy dalam perjalanannya menuju Madinah melalui jalan barat, sudah sampai di Abwa dan melewati makam Aminah binti Wahab ibunda Rasulullah SAW. Saat itulah panas hati beberapa orang Quraisy kembali bergejolak. Hindun binti Uthbah dengan penuh amarah berniat hendak membongkar kuburan itu, tetapi para pemuka Quraisy melarang dan memperingatkan akan akibat-akibat buruk yang akan menimpa mereka jika mereka melakukan hal itu. 

“Jangan lakukan itu..!” kata para pemuka Quraisy,  “Jika ini kita lakukan, nanti Banu Bakar dan Banu Khuza'a akan membongkar juga kuburan mayat-mayat kita.”

Pasukan Quraisy  meneruskan  perjalanan hingga mendekati kota Madinah, lalu melintasi lembah 'Aqiq dan selanjutnya berbelok ke arah kanan hingga tiba di kaki gunung Uhud, kemudian mereka berhenti dan mendirikan kemah.
Dua orang anak-anak  Fudzala, yaitu Anas dan Mu'nis, oleh Rasulullah SAW ditugaskan mencari informasi tentang keadaan Quraisy. Menurut pengamatan mereka, pasukan Quraisy sudah  mendekati Madinah. Kuda dan onta mereka dilepaskan di padang rumput sekeliling Madinah. Rasulullah SAW pun mengadakan pertemuan dengan kaum  Muslimin untuk bertukar pikiran guna menentukan sikap. Lalu beliau mengemukakan pendapat agar pasukan Muslimin tidak keluar dari Madinah, namun bertahan di dalamnya. Jika kafir Quraisy memilih tinggal di perkemahan mereka, berarti mereka tinggal di tempat yang buruk dan tanpa membuahkan hasil. Namun jika mereka berani memasuki kota, mereka akan diperangi oleh kaum Muslimin di pintu-pintu gang dan dibantai para wanita dari atap-atap rumah. Pendapat Rasulullah SAW itu didukung penuh oleh ‘gembong orang-orang munafik’ Abdullalh bin Ubay bin Salul, dia berkata, “Wahai Rasulullah, biasanya kami bertempur di tempat ini, kaum wanita dan anak-anak  sebagai benteng kami lengkapi dengan batu. Selain itu kota kami ini juga terlindungi oleh bangunan-bangunan yang rapat sehingga cukup menjadi benteng dari segenap penjuru. Jika musuh sudah datang, maka wanita-wanita dan anak-anak akan melempari mereka dengan  batu. Kami sendiri akan menghadapi mereka di jalan-jalan dengan pedang. Wahai Rasulullah, kota kami ini masih belum pernah  diterobos musuh. Setiap kali ada musuh menyerbu kami ke dalam kota ini kami selalu dapat menguasainya, tetapi jika kami menyerbu musuh keluar, maka kamilah yang dikuasai....”

Pendapat yang dikemukakan oleh Abdullah bin Ubay itu banyak mendapat persetujuan dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW, baik Muhajirin ataupun Anshar. Walaupun sebenarnya pendapat itu tidak didasari oleh sudut pandang strategi peperangan yang sesungguhnya, tetapi agar dia sedapat mungkin menghindari peperangan tanpa dicurigai oleh seorang pun. Dia takut terbunuh dalam peperangan.

Kisah Nabi Uzair Tertidur 100 Tahun

Written By Ramalan Zodiak on Jumat, 16 September 2011 | 19.05

Pada suatu hari ketika 'Uzair memasuki kebunnya yang subur dengan pepohonan yang hijau daunnya dan lebat buahnya. Hatinya terpesona dengan keindahan pemandangan kebunnya. Ia pun memetik beberapa buah-buahan untuk dibawa pulang. Setelah itu ia  pulang dengan keledainya sambil menikmati keindahan alam sekitarnya. Ia tidak sadar bahwa keledai yang ditungganginya telah tersesat jalan. Setelah sekian lama barulah ia sadar bahwa ia telah berada di suatu daerah yang tidak dikenali serta sudah jauh dari desa tempat tinggalnya.

‘Uzair memperhatikan sekeliling daerah yang asing itu.
“Hmm.. Tempat ini seperti bekas sebuah kampung yang binasa akibat peperangan dahsyat…” pikirnya.

Di beberapa sudut kampung itu tampak bekas-bekas reruntuhan dengan mayat-mayat manusia yang bergelimpangan dimana-mana. Ia pun turun dari keledainya dengan membawa dua keranjang buah-buahan. Keledainya ia ditambatkan pada sebatang pohon, lalu ia duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh. Ia pandangi mayat-mayat manusia yang sudah mulai membusuk itu. Pikirannya mulai berkecamuk,

"Hmm.. Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu pada hari kiamat dihidupkan lagi oleh Allah?"
Ia terus memikirkan itu hingga tertidur karena kelelahan. 
‘Uzair terus tertidur hingga hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun tanpa terbangun sedetik pun. Seratus tahun berlalu sudah, sementara ‘Uzair tetap tertidur dengan jasad yang sudah hancur menyatu dengan tanah.
     Image
Kemudian Allah menyusun kembali daging dan tulang belulang ‘Uzair yang sudah hancur itu lalu ditiupkan ruhnya. Seketika itu juga 'Uzair terbangun dan berdiri mencari keledai dan buah-buahannya di dalam keranjang.

Tidak berapa lama kemudian, turunlah beberapa malaikat seraya bertanya, "Tahukah engkau wahai 'Uzair berapa lama engkau tidur?”

Tanpa berpikir panjang 'Uzair menjawab, "Aku tertidur seharian atau mungkin setengah hari."
Lalu malaikat pun berkata kepadanya, "Wahai ‘Uzair, engkau telah tertidur selama seratus tahun. Disinilah engkau berbaring, ditimpa hujan dan panas matahari, bahkan kadang ditiup badai. Dalam masa yang begitu panjang itu, buah-buahanmu tetap baik keadaannya. Tetapi coba lihat keledaimu, dia sudah hancur dimakan bumi”.
Dengan penuh keheranan, bergantian ia pandangi buah-buahan yang masih segar dan keledainya sudah hancur tidak berbentuk.

Malaikat pun melanjutkan perkatannya, "Lihat dan perhatikanlah sungguh-sungguh. Demikianlah kekuasaan Allah. Allah dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan mengembalikan jasad-jasad yang sudah hancur lebur.  Dengan semudah itu pula Allah akan membangkitkan semua manusia yang sudah mati untuk diperiksa dan diadili segala perbuatannya kelak di akhirat. Hal ini diperlihatkan oleh Allah kepadamu agar engkau dan manusia-manusia lain tidak ragu-ragu lagi tentang apa yang diterangkan oleh Allah tentang kehidupan di akhirat".

Tiba-tiba keledai yang sudah hancur berderai itu dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya dan akhirnya menjadi seperti sediakala, hidup sebagaimana sebelum mati. Maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang aku semakin yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Lalu ‘Uzair menghampiri keledainya dan menungganginya pulang ke rumahnya dahulu. Namun ia kesulitan mencari jalan pulang. Jalan yang dulu pernah ia lalui sudah banyak berubah. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dilihatnya seratus tahun lalu. Setelah menempuh berbagai kesulitan, akhirnya ia pun sampai di rumahnya. Ia mendapati rumahnya sudah porak poranda, sebagian besar dinding-dinding rumahnya telah runtuh. Ia pun mulai ragu, “Apa benar ini rumahku dulu..” Tiba-tiba ‘Uzair melihat ada seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih. Kedua matanya telah buta, hingga ia harus berjalan meraba-raba menggunakan tongkatnya. Lantas ‘Uzair pun bertanya, "Maaf bu.. Rumah siapakah ini?”
Perempuan tua itu menjawab. "Ini adalah rumah 'Uzair, tetapi ia telah lama pergi dan tidak lagi didengar kabar beritanya. Lagi pula semua orang sudah melupakannya”.
“Ibu.. akulah 'Uzair," jelas 'Uzair. "Aku telah dimatikan oleh Allah seratus tahun  yang lalu. Sekarang aku sudah dihidupkan kembali oleh Allah”.

Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata, "'Uzair itu adalah seorang yang paling sholeh, doanya selalu dikabulkan oleh Allah dan telah banyak jasanya dalam mengobati orang-orang yang sakit" sambungya lagi, "Aku ini pelayan ‘Uzair, badanku telah tua dan lemah, mataku pun telah buta karena selalu menangis terkenangkan 'Uzair. Kalaulah tuan ini 'Uzair maka cobalah tuan doakan kepada Allah supaya mataku terang kembali dan dapat melihat tuan."

Uzair pun menengadahkan kedua tangannya ke langit lalu berdoa kepada Allah. Tiba-tiba kedua mata peempuan tua itu pun terbuka dan dapat melihat dengan lebih terang lagi. Tubuhnya yang tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan kembali muda. Setelah menatap wajah 'Uzair dia pun berkata, "Benar, tuanlah 'Uzair. Aku masih ingat".
Berita tentang kembalinya ‘Uzair setelah seratus tahun menghilang itu bukan saja mengejutkan orang-orang Bani Israil, tetapi ada juga yang meragukan dan tidak percaya kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu menarik perhatian semua orang yang hidup ketika itu. Kerana itu mereka ingin menguji kebenaran 'Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya sendiri seraya bertanya, "Aku masih ingat bahwa bapakku mempunyai tanda di punggungnya. Cobalah periksa tanda itu. Kalau ada, benarlah dia 'Uzair."

Tanda itu memang ada pada 'Uzair, lalu percayalah sebagian dari mereka. Akan tetapi sebagian lagi masih ingin bukti yang lebih nyata, maka mereka berkata kepada 'Uzair, "Bahwa sejak penyerbuan Nebukadnezar pada bangsa Bani Israil dan setelah tentara tersebut membakar kitab suci Taurat, maka tidak ada seorang Bani Israil pun yang hafal isi Taurat kecuali 'Uzair saja. Kalau memang benar tuan adalah ‘Uzair, coba tuan sebutkan isi Taurat yang benar."

'Uzair pun membaca isi Taurat itu satu persatu dengan fasih dan lancar serta tidak salah walaupun sedikit. Mendengarkan itu barulah mereka percaya bahwa sungguh benar itulah 'Uzair. Ketika itu, semua bangsa Bani Israil pun percaya bahwa dialah 'Uzair yang telah mati dan dihidupkan kembali oleh Allah. Banyak di antara mereka yang bersalaman dan mencium tangan 'Uzair serta meminta nasehat-nasehatnya. Tetapi sebagian kaum Yahudi yang bodoh menganggap 'Uzair sebagai anak Allah. Maha Suci Allah tidak mempunyai anak saperti 'Uzair maupun Isa karena semua makhluk adalah kepunyaan-Nya belaka. [sumber : QS. Al Baqoroh : 259] (adaptasi dari nuansaonline.net)

Cerita Si Pembuat Kendi dan Si Pengrajin Emas

Written By IP on Kamis, 01 September 2011 | 10.36

Cerita Si Pembuat Kendi dan Si Pengrajin Emas. Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota , tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran. Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu mencintai sang pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar. Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi. Pada suatu hari, ketika petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dengkinya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini. Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri. Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi apa daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Dia pun dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.

Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukannya menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin terbakar oleh api kedengkian terhadap si pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.
Dengki dan hasad sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya. Dia menyediakan racun dan memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas. Hari yang ditetapkan pun tiba. Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya. Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya.
Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas.

Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata: Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku. Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu. Pembuat kendi melanjutkan: Aku mengetahui segala apa yang terjadi pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawaku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.
Kata-kata pembuat kendi menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabat ku, ketahuilah bahawa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik. Tahukah engkau apakah rahasia kebaikanku di tengah masyarakat? Untuk mengetahui rahasia ini, aku ingin menyajikan sebuah kisah untuk mu. Pengrajin emas memasang telinganya untuk mendengar kisah tersebut dan dalam keadaan tersenyum yang tersungging di bibirnya, dengan penuh perhatian dia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembuat kendi. Si pembuat kendi berkata; Pada suatu hari Imam Sajad as, berkata kepada salah seorang sahabatnya bernama Zuhri yang begitu sedih memikirkan segala yang muncul dari sifat hasad pada dirinya. Beliau berkata: “Wahai Zuhri, apakah salahnya jika engkau menganggap orang lain sama seperti saudara dan keluargamu sendiri, orang yang tua sebagai bapakmu, anak-anak sebagai anakmu dan orang yang sebayamu seperti saudaramu sendiri. Ketika dalam keadaan begini, bagaimana mungkin engkau berbuat zalim kepada orang lain? Janganlah engkau lupa pada hal ini bahwa orang lebih menyayangi siapa yang berbuat baik kepada orang lain. Jika cara ini kau lakukan dalam hidupmu, dunia akan menjadi tempat yang membahagiakanmu dan engkau akan mempunyai banyak kawan.

Kata-kata pembuat kendi itu sampai disini. Pengrajin emas merenungkan kalimat tersebut. Tampak rasa penyesalan di wajahnya. Dengan suara yang bergetar, dia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu. Kepada Tuhan dia berjanji bahwa selepas ini dia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

Trending Topic

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. si-Buta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger