Headlines News :

Kesehatan

Kesehatan

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Suami Solih dan istri Solihah

Written By Ramalan Zodiak on Minggu, 25 Desember 2011 | 16.45

Pernah ada seorang wanita yang bertanya (menurut bahasa bebasnya) seperti ini : Wahai Rosul Alloh, di dalam al-Quran yang sering dibahas itu hanya kaum lelaki saja (kok kayaknya al-Quran itu hanya berorientasi kepada kaum lelaki saja), terus bagaimana dong nasib kami kaum wanita ? Maka turunlah wahyu surah al-Ahzaab ayat 35 yang berisikan : ”Sesungguhnya laki-laki maupun perempuan yang Islam; laki-laki maupun perempuan yang beriman; laki-laki maupun  perempuan  yang selalu patuh; laki-laki maupun perempuan yang jujur; laki-laki maupun perempuan yang khusyu’; laki-laki maupun perempuan yang banyak bershodaqoh; laki-laki maupun perempuan yang banyak berpuasa; laki-laki maupun perempuan yang bisa menjaga farjinya; laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir kepada Alloh, maka Alloh menyediakan bagi mereka pengampunan dan pahala yang agung”.

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan jender antara kaum lelaki dan kaum wanita dalam hal kesempatan untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Alloh. Kaum lelaki maupun kaum wanita sama-sama berhak untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat sebagaimana isi doa sapu jagat yang biasa dibacanya setiap hari. Tradisi jaman jahiliyah yang cenderung melecehkan kaum wanita dijawab oleh Rosululloh dengan sabdanya : ”Tidak memuliakan pada kaum wanita kecuali orang yang mulia dan tidak menghinakan pada kaum wanita kecuali orang yang hina” (HR Ibnu ’Asakir).

Adapun kriteria suami yang sholih tentu saja banyak komponennya, sebagaimana kriteria orang beriman terdapat lebih dari enam puluh cabang dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman. (HR Al-Bukhori, Kitabul-Iman). Di sini saya hanya akan menguraikan beberapa di antara kriteria suami yang sholih.

1.   Punya tanggung jawab memberi nafkah. Makanya Rosululloh pun menganjurkan para remaja untuk menikah manakala mereka sudah punya kemampuan untuk memberi nafkah. Untuk remaja yang baru punya semangat ”nafkah batin” tapi belum punya kemampuan untuk memberi nafkah lahiriah (materi) maka beliaupun menyabdakan : ”puasa saja dulu”. Diharapkan dengan puasa tersebut maka gejolak ”nafkah batin” bisa diredam. Tanggung jawab memberi nafkah tidak berarti harus berupa harta yang melimpah karena kemampuan dan rejeki setiap orang tentu saja berbeda. Dalam suatu kondisi bisa saja si isteri pun harus ikut bekerja membantu suami untuk mencari tambahan nafkah. Suatu saat bisa saja pendapatan si isteri malah lebih banyak ketimbang pendapatan suaminya. Dalam hal seperti ini tidak berarti suami bisa melepas tanggung jawab soal nafkah keluarga karena fungsi suami tetap sebagai imam keluarga.

2.    Memperlakukan keluarganya dengan lemah lembut, sebagaimana sabda Rosululloh, shollallohu ’alaihi wasallam : ”Sebaik-baik kalian adalah yang lebih baik akhlaknya dan lebih lemah lembut terhadap isterinya”. (HR At-Tirmidzi). Hal ini berarti pula bahwa suami harus bisa menghindari tindakan-tindakan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) sebagaimana Rosululloh menyindir : ”Apakah tidak malu seorang suami yang memukuli isterinya seperti memukuli hewan tapi malam harinya dia kumpuli ?”. (HR Al-Bukhori). KDRT tidak hanya berupa tindakan fisik tapi juga termasuk ucapan atau kata-kata yang mengintimidasi. Kalau istilah hadits-nya ”wa laa tuqobbih”, dilarang mendoakan jelek pada isteri atau keluarga.

3.    Tetap peduli dengan urusan internal rumah tangga. Orientasi seorang suami tidak hanya urusan luar rumah tangga seperti mencari nafkah saja tapi dia pun harus tetap peduli dengan urusan dalam rumah tangga seperti soal pendidikan anak-anak dan kebersihan serta kerapihan rumah dan lingkungannya. Bukan hal yang salah malah termasuk hal yang baik bila suami juga ikut memandikan anak-anaknya yang masih kecil, mengajak mereka bersenda-gurau atau bermain. Dan bukan hal yang hina jika suami juga ikut mencuci piring atau menyapu rumah. ’Aisyah (salah seorang isteri Rosululloh) menerangkan bagaimana kegiatan Rosululloh kalau sedang di rumah : ”Beliau selalu sibuk dengan urusan rumah tangga. Dan manakala adzan sudah terdengar maka beliau bergegas pergi ke masjid”. (HR Al-Bukhori).

4.    Berlaku sebagai roo’in (pemimpin), sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ’alaihi wasallam : ”Seorang suami adalah pemimpin bagi penghuni rumahnya dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya”. (HR Al-Bukhori, Kitabul-Ahkam). Sebagai seorang pemimpin (imam) maka suami harus bisa mengatur dengan adil, menasihati dan mendidik keluarganya. Dan metoda pendidikan yang paling effektif adalah melalui keteladanan sebagaimana Rosululloh pun dijadikan sebagai uswah-hasanah (contoh yang baik) bagi ummatnya.

Satu catatan bagi kaum isteri bahwa untuk menjadi isteri sholihah (bisa menyenangkan ketika dipandang, bisa taat ketika disuruh dan bisa menjaga kehormatan dirinya di saat suami tidak di sampingnya) tidak usah menunggu si suami menjadi sholih seratus persen dulu. Artinya jangan menjadi alasan untuk tidak hormat pada suami gara-gara suaminya belum bisa tampil sebagai suami yang sholih, karena tidak ada di antara kita ini manusia yang sempurna. Dan pada akhirnya sorga kita ditentukan oleh iman dan amal kita masing-masing. Suami masuk sorga karena dia bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami, demikian pula isteri bisa masuk surga kalau dia bisa menunaikan kewajibannya sebagai isteri.

Islam di Negeri Kincir Angin

Written By IP on Kamis, 01 September 2011 | 19.25

Hari demi hari, komunitas muslim di Belanda mampu menghadapi beragam tindakan pelecehan dan penodaan terhadap agama Islam dengan dewasa. Boleh jadi kaum muslimin di sana berhak mendapat gelar ”Mujaddid Islam Di Eropa”. Mereka menolak film ”Fitna” dengan cara-cara simpatik dan kerja nyata. Mereka patut menjadi contoh bagi komunitas muslim di Eropa yang lain dalam membela Islam.

PENOLAKAN dengan bukti nyata dan cara yang simpatik dari komunitas muslim di Belanda atas pelecehan itu, menjadikan mayoritas warga Belanda bersimpati terhadap muslim Belanda dan turut membela kesucian agama Islam dan menentang film ”Fitna”.

Ini dibuktikan oleh dua Universitas Di Belanda (Groningen University dan satu Universitas lagi) yang memfasilitasi tempat bagi mahasiswa muslim untuk menunaikan shalat. Manajemen dua Universitas ini menegaskan menghormati semua agama. Bahkan dua Universitas ini secara khusus menetapkan waktu bagi mahasiswa muslim untuk melaksanakan shalat Jum’at, mencontoh yang berjalan di negara-negara Islam. Muslim Belanda mengadakan beragam kegiatan ke-Islaman, seperti diskusi ilmiah, dialog terbuka dengan ilmuwan, praktisi media Belanda, menjelaskan kepada mereka bahwa Al Qur’an merupakan kitab yang berisi ibadah dan hidayah.

Sebagaimana ”Organisasi Pemimpin” di Belanda menyerukan kepada seluruh umat Islam di Belanda untuk tidak berbuat anarkis dan kriminal atas pelecehan yang ada. Karena respon yang anarkis itulah yang diinginkan oleh pelaku fitnah dan pelecehan.

Sebuah tabloid di Belanda menyebutkan bahwa apa yang dikehendaki pembuat film ”Fitna” tidak terjadi, bahkan umat Islam merespon dengan dewasa, sehingga menjadikan warga Belanda menyerbu perpustakaan dan toko di Amsterdam. Warga Belanda membeli mushhaf Al Qur’an elektronik yang diterjemahkan dalam bahasa Belanda dalam jumlah besar. Bahkan di pasaran stok mushhaf itu habis.

Komunitas Muslim di Belanda menyadari bahwa Belanda adalah ”Negeri Sejuta Muslim”. Dimana jumlah umat Islam di sana terus bertambah dan penganutnya terkenal taat dengan ajaran agamanya secara baik dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya.

Di Belanda, jumlah muslim yang taat beragama sekitar 30% dari total jumlah penganut ajaran agama yang taat lainnya. Padahal statistik resmi mengisyaratkan bahwa jumlah umat Islam hanya 5% saja dari total jumlah penduduk. Menempati urutan keempat setelah Kristen Protestan 23%, Katolik 32% dan kelompok yang tidak menganut ideolagi apapun sebesar 38%.

Pada tahun 1947 warga negara Indonesia dan Suriname yang beragama Islam masuk ke Belanda. Pada akhir tahun enam-puluhan dan awal tahun tujuh-puluhan banyak pekerja dari Turki dan Maghrib yang masuk ke Belanda.

Komunitas Turki di Belanda paling besar jumlahnya, mencapai 310 ribu penduduk, berikutnya komunitas Maghrib 277 ribu warga, Suriname 60 ribu. Selebihnya dari Irak, Somalia, Pakistan, Mesir, Suria, Ethiopia, Negeria. Mayoritas mereka menganut ahlus sunnah.

Orang Belanda mengatakan bahwa negeri mereka adalah ”Pintu Gerbang Eropa”, karena posisi strategis dan peranan penting yang dimainkan oleh negeri ini. Banyak gereja-gereja yang dijual kepada umat Islam dan berubah fungsi menjadi masjid dan tempat ibadah.

Di awal komunitas muslim bermukim di Belanda, mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan baik, yang menjadikan warga setempat menghormati keyakinan umat Islam. Umat Islam mulai membangun tempat ibadah, diperbolehkan kumandang Adzan dengan pengeras suara meskipun sekali dalam seminggu.

Sebagaimana juga komunitas muslim mendirikan tempat pemotongan hewan sebanyak lima ratus tempat, praktek penyembelihan dengan cara-cara syariah, terutama pada musim kurban. Perusahaan-perusahaan dan tempat-tempat yang memperkerjakan umat Islam juga memberi kesempatan ibadah shalat, shaum Ramadhan, liburan khusus hari raya, memfasilitasi tempat shalat dan menjaga makanan yang halal.

Shalat Isya’ bagi warga Belanda terbilang cukup sulit, terutama akhir bulan Mei sampai awal Agustus setiap tahunnya. Di mana Belanda merupakan negeri yang terletak di bagian negara-negara yang matahari tidak tenggelam kecuali hanya sebentar saja. Yaitu jeda antara waktu Shalat Isya’ dan shalat subuh kurang dari empat puluh menit saja. Bahkan kadang fajar sudah terbit sebelum tenggelamnya syafaq (batas selesai waktu shalat Isya’). Hampir mustahil menunaikan shalat Isya’ bagi yang tinggal di ujung Utara.

Kesulitan bertambah ketika waktu ibadah shaum Ramadhan musim Panas tiba. Kaum muslim di sana sulit menunggu shalat Isya’ kemudian shalat tarawih kemudian langsung sahur pada waktu yang sangat singkat. Kadang kurang dari dua puluh menit saja.
(adaptasi nuansaonline.net)

Niat Yang Berbeda Ketika Meminum Air Zam-Zam

Niat Al Imam Al Khotib Al baghdady Ketika Meminum Air Zamzam
iriwayatkan dari Al Imam Al Khotib Al Baghdady Abi Bakr Ahmad bin Ali Al Hafidz, seorang ahli hadits dari Syam dan Iraq Rohimahulloh yang wafat pada tahun 463 H, bahwasanya ketika melaksanakan ibadah haji beliau meminum air zamzam tiga kali dan memohon agar Alloh mengabulkan tiga keinginannya, yaitu :
1. Mohon agar bisa menceritakan Tarikh Baghdad
2. Agar bisa membacakan hadits Jaami’ Al Manshur
3. Apabila sewaktu-waktu mati, dikubur di dekat kuburnya Bisyr Al Hafiy, Al Imam, Al Muhadits, az Zahid, Al Qudwah, Syaikhul Islam yang wafat pada tahun 227 H
Maka Alloh mengabulkan semua permohonannya. (Tadzkiroh Al Hufadz 3/1193)

Niat Al Imam Ibnu Al ‘Arobiy Al Maliki Ketika Meminum Air Zamzam
Diriwayatkan dari Al Imam, Al ‘Allamah, Al Hafidz, Al Qodliy, Abi Bakr Muhammad bin Abdillah Ibni Al Arobiy Al Andalusiy, pemilik kitab “Ahkamul Qur’an” Rohimahulloh Ta’ala, yang wafat pada tahun 543 H, dia berkata : Aku pernah bertempat tinggal di Mekah pada bulan Dzul Hijjah  tahun 489 H,  di sana aku minum air zamzam sebanyak-banyaknya dengan niat agar supaya Alloh menjadikan aku ahli ilmu dan ahli iman, Maka Alloh membukakan hatiku senang kepada ilmu dan aku lupa meminumnya dengan niat untuk beramal. Alangkah baiknya seandainya aku minum dengan niat untuk ilmu dan amal, dengan harapan Alloh membukakan keduanya untukku, tetapi karena belum dikodar untuk itu, maka kecenderungan hatiku kepada ilmu itu lebih besar dari pada amalannya dan aku mohon kepada Alloh agar supaya aku selalu hafal terhadap ilmu dan mendapatkan taufiqNya.
Mudah-mudahan Alloh memberikan rohmat kepada Al Imam yang memiliki jiwa yang bersih dan banyak Tawadlu’nya kepada Alloh, mudah-mudahan ini menjadi pelajaran buat kita semua.

Niat Orangtuanya Al Imam Ibni Al Jazary Ketika Meminum Air Zamzam
Al Imam Al Hafidz Al Muqry Muhammad bin Muhammad Al Jazary telah berkata di dalam kitabnya “Jami’ul Asanid” bahwa orang tuaku telah bercerita kepadaku bahwa beliau dilahirkan tahun 725 H dan haji pada tahun 748 H, orang tuaku meminum air zamzam dengan niat agar Alloh memberi rizki berupa seorang anak laki-laki yang menjadi ahli Qur’an, beliau kawin dengan ibuku tahun 750 H dan aku lahir pada tahun 751 H. 

Niat Al Hafidz Ibni Hajar Al ‘Asqolany Ketika Meminum Air Zamzam
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolany Ahmad bin Ali Rohimahulloh Ta’ala, yang wafat pada tahun 852 H, dia berkata : Aku minum air zamzam satu kali dan aku mohon kepada Alloh agar aku memiliki kemampuan didalam mencari hadits seperti Imam Adz Dzahabi (Al Imam Al Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Ahmad) Rohimahulloh  yang wafat pada tahun 748 H, kemudian aku melaksanakan ibadah haji lagi kurang lebih dua puluh tahun sesudahnya dan aku menemukan di dalam diriku ada peningkatan, maka aku mohon kepada Alloh untuk mendapatkan derajat yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.
Al Hafidz As Sakhowy murid Al Imam Ibnu Hajar telah berkata : Bahwa sesungguhnya Alloh telah membuktikan harapan Imam Ibnu Hajar dan tidak sedikit dari para Ulama’ yang menyaksikannya.
Al Iman As Suyuthy setelah menceritakan Imam Ibnu Hajar dan niatnya Imam Ibnu Hajar ketika minum air zamzam dia berkata: Bahwa Al Imam Ibnu Hajar telah sampai kepada apa yang telah dimintanya bahkan lebih dari itu (Fadlo’ilu Zamzam hal 141).
Niat Al Imam Al Kamal Ibnu Al Humam Ketika Meminum Air Zamzam
Al Imam Al Faqih Al Ushuly Al Muhadits Al Kamal ibnu Al Humam Muhammad bin Abdil Wahid Rohimahulloh yang wafat pada tahun 861 H, setelah menceritakan tentang Syaikhnya yaitu Al Hafidz Ibnu Hajar dan niatnya ketika minum air zamzam dia berkata : “Seorang hamba yang lemah berharap kepada Alloh yang Maha Suci dalam meminum air zamzam agar diberi istiqomah dan mati di dalam menetapi islam yang sebenarnya”.

Niat Al Imam As Suyuthy Ketika Meminum Air Zamzam
Al Imam Abu Bakar As Suyuthi Rohimahulloh yang wafat pada tahun 911 H dia telah berkata : Ketika aku melaksanakan ibadah haji, aku minum air zamzam dengan niat untuk beberapa hal, antara lain : dalam urusan fiqh aku mohon kepada Alloh agar bisa setingkat dengan Asy Syaikh Sirojuddin Al Bulqiniy Umar bin Ruslan Al Imam Al Mujtahid  Al Hafidz Rohimahulloh yang wafat pada tahun 805 H dan di dalam urusan hadits setingkat dengan Al Hafidz Ibnu Hajar (Husnul Muhadloroh 1/338).
Salah seorang murid Imam As Suyuthy yaitu Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ali Ad Dawudy Al Maliky pemilik kitab “Thobaqootul Mufassirin” yang wafat pada tahun 945, dia berkata : Demi Dzat yang diriku di tanganNya sesungguhnya tingkatan ilmu yang telah dicapai oleh Imam As Suyuthy itu tidak ada seorang pun dari murid syaikh-syaikhnya yang membandinginya.

Niat Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Aaq Syamsuddin Ketika Meminum Air Zamzam
Pemilik Kitab Al Jauharu Al Munadhom yaitu Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Aaq Syamsuddin Rohimahulloh yang wafat pada tahun 1165 H, setelah menyebutkan beberapa berita para ulama’ yang minum air zamzam dan bukti-bukti Alloh telah mengabulkan apa yang mereka inginkan sesuai dengan niat mereka ketika minum air zamzam, beliau berkata : Aku seorang hamba yang fakir yang menyusun risalah ini, yang mengetahui kekurangannya, aku berkata : Sesungguhnya aku telah minum air zamzam sekenyang-kenyangnya berkali-kali dan melakukan uji coba berkali-kali, maka setiap aku minum air zamzam dengan niat agar tercapai maksud-maksud yang besar maupun yang kecil, yang mudah maupun yang sulit ternyata aku selalu berhasil mencapainya dengan pertolongan Alloh Raja Yang Maha Tinggi. Maka dari itu aku mengucapkan puji syukur kepada Alloh atas kenyataan yang demikian. (Al Jauharu Al Munadhom hal 64) .

Niat Asy Syaikh Dhofar Ahmad Al Utsmany Ketika Meminum Air Zamzam
 Al Allamah Al Muhadits Al Faqih Asy Syaikh Dhofar Ahmad Al Ustmany At Tahanawi salah seorang ulama’ besar di India dan Pakistan Rohimahulloh, yang wafat pada tahun 1394 H dalam umur 84 tahun, dia berkata : Sesungguhnya aku telah minum air zamzam pada waktu haji yang pertama untuk kepentingan agama dan dunia, maka aku berhasil mendapatkan kebanyakan dari yang aku minta. Pada waktu haji yang kedua aku meminumnya untuk kepentingan yang sama, maka aku berbahagia karena aku berhasil mendapatkan kebanyakan yang aku minta dalam urusan agama dan dunia. Kemudian pada waktu haji yang ketiga aku meminumnya untuk kepentingan-kepentingan yang aku berharap Alloh mengabulkannya. Sesungguhnya aku pernah terkena penyakit gagap lisan (tidak lancar bicara) keadaan ini menjadikan aku tidak bisa menerima pelajaran di sekolah-sekolah dan Khotbah di atas minbar-minbar, setelah aku minum air zamzam sejak haji yang pertama aku bisa merasakan mempunyai kemampuan untuk menerima pelajaran di sekolah dan Alloh telah memberikan rizki kepadaku berupa kemampuan yang sempurna didalam berkhotbah, memberikan mauidloh dan memberikan tadzkiroh, sehingga para pendengar bisa menerimanya dengan mudah dan jelas. Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya dan semua shohabat-shohabatnya. (I’la’u As Sunan 7/207-208).
Air Zamzam dengan Rasa Madu, Rasa Susu atau dengan Rasa Lainnya Tergantung Untuk Apa Dia Diminum
Alloh Ta’ala menjadikan sebagian dari barokahnya air zamzam dan kebaikan-kebaikannya adalah sebagai makanan yang mengenyangkan dan obat segala penyakit (penyakit medis maupun non medis) kedudukan air zamzam sama dengan makanan yang bisa mengenyangkan dan menguatkan badan tergantung niat orang yang meminumnya, sebagaimana yang telah diceritakan sebelumnya. Air zamzam yang penuh barokah ini pernah rasanya sama dengan rasa madu atau rasa susu atau selain keduanya, hal ini semata-mata karena kefadlolan Alloh Ta’ala yang telah menciptakan segala sesuatu dengan keistimewaan-keistimewaannya, apa yang Alloh kehendaki terjadi maka terjadilah. Di bawah ini ada beberapa berita tentang bukti kemuliaan Alloh yang diberikan kepada sebagian orang-orang yang meminum air zamzam.
Al Imam Sufyan Ats Tsauri Pernah Minum Air Zamzam dengan Rasa Tepung Gandum, Rasa Madu dan Rasa Laban (Susu)

Diriwayatkan dari Sufyan bin Said Ats Tsauri Syaikhul Islam, imam ahli hadits, pemimpin ulama’ amilin pada zamannya, Al Faqih dan Al Mujtahid di kota Kufah Rohimahulloh Ta’ala, yang wafat pada tahun 161 H sebagaimana telah disebut di dalam kitab Hilyatul ‘Auliya’ li Abi Nu’aim dari Abdurrohman bin Ya’kub bin Ishak Al Makiy dia telah menceritakan kepadaku bahwa seorang laki-laki yang terkenal jujur dari penduduk Haroh yang bernama Abdulloh Al Harowy  telah berkata : Aku masuk sumur zamzam di waktu sahur, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang Syaikh yang menimba air zamzam dari dekat rukun hajar aswad dan meminumnya. Setelah itu dia memasukkan timbanya, maka aku mengambilnya dan meminum sisanya, tiba-tiba rasanya adalah rasa tepung sawiq yang telah dicampur dengan buah yang sangat harum. Pada malam berikutnya aku mengintainya. tiba-tiba dia masuk ke sumur zamzam dan menutup wajahnya dengan kain, lalu dia menimba air zamzam dari dekat rukun hajar aswad dan meminumnya, setelah itu dia memasukan timbanya lalu aku mengambil sisanya dan meminumnya. Tiba-tiba rasanya adalah air yang dicampur dengan madu yang aku belum pernah minum madu yang lebih harum sebelumnya. 

Abdulloh Al Harowy berkata : Aku ingin memegang ujung pakaiannya tetapi aku terlambat. Pada malam yang ketiga aku duduk di depan pintu zamzam, ketika datang waktu sahur diapun masuk ke sumur zamzam dan menutup wajahnya dengan kain. Maka aku masuk dan memegang ujung pakaiannya. Ketika dia minum akupun melepaskannya, aku berkata : Wahai orang ini aku bertanya kepadamu dengan bersumpah atas nama tuhan rumah ini, siapakah engkau ? Dia berkata : Apakah kamu mau merahasiakan namaku sehingga aku mati ?, Aku berkata: Ya, dia berkata : Saya adalah Sufyan bin Said Ats Tsaury. Maka aku melepaskannya dan minum sisa air yang ada dalam timba. Tiba-tiba aku merasakan susu yang dicampur dengan gula yang sangat nikmat, yang sebelumnya aku belum pernah merasakan nikmat susu seperti itu. Abdulloh Al Harowy berkata : Air zamzam yang aku minum itu mencukupi kepadaku sampai dengan waktu malam berikutnya dan aku tidak merasakan lapar maupun dahaga. 
(adaptasi nuansaonline.net)

Trending Topic

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. si-Buta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger